BIOGRAFI
Prof. Dr. Abdul Hadi WM
Prof.
Dr. Abdul Hadi WM (lahir di Sumenep, Madura, Jawa
Timur, 24 Juni 1946;
umur 65 tahun) adalah salah satu sastrawan, budayawan dan
ahli filsafat Indonesia.Ia
dikenal melalui karya-karyanya yang bernafaskan sufistik,
penelitian-penelitiannya dalam bidang kesusasteraan Melayu Nusantara dan
pandangan-pandangannya tentang Islam dan
pluralisme.
Masa kecil
Abdul
Hadi WM lahir dari garis keturunan saudagar Tionghoa yang hijrah dan
menetap di Sumenep. Ayahnya, saudagar dan guru bahasa Jerman
bernama K. Abu Muthar menikah dengan putri keraton Solo bernama RA. Martiya.
Anak sulung dari empat bersaudara (semua laki-laki) ini di masa kecilnya
sudah berkenalan dengan bacaan-bacaan yang berat dari pemikir-pemikir seperti Plato, Sokrates, Imam Ghazali, Rabindranath Tagore,
dan Muhammad Iqbal.
Sejak kecil pula ia telah mencintai puisi dan dunia tulis menulis. Penulisannya
dimatangkan terutama oleh karya-karya Amir
Hamzah dan Chairil
Anwar. Bersama teman-temannya Zawawi Imron dan
Ahmad Fudholi Zaini, Hadi mendirikan sebuah pesantren di kota kelahirannya
tahun 1990 yang diberi nama "Pesantren An-Naba", yang terdiri dari
masjid, asrama, dan sanggar seni tempat para santri diajari sastra, seni rupa
(berikut memahat dan mematung), desain, kaligrafi, mengukir, keramik, musik,
seni suara, dan drama.
Pendidikan
Pendidikan
dasar dan sekolah menengah pertamanya diselesaikan di kota kelahirannya. Ketika
memasuki sekolah menengah atas, Abdul Hadi meninggalkan kota kelahirannya,
pergi ke Surabaya
untuk menuntut ilmu di kota itu. Ia kemudian menempuh pendidikan di
Fakultas Sastra, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta
hingga tingkat sarjana muda, lalu pindah ke studi
Filsafat Barat di universitas yang sama hingga tingkat doktoral, namun tidak
diselesaikannya. Ia
beralih ke Fakultas Sastra, Universitas Padjadjaran, Bandung dan
mengambil program studi Antropologi.
Selama setahun sejak 1973-1974 Hadi bermukim di Iowa, Amerika
Serikat untuk mengikuti International
Writing Program di University of Iowa,
lalu di Hamburg, Jerman
selama beberapa tahun untuk mendalami sastra dan filsafat. Pada tahun 1992 ia
mendapatkan kesempatan studi dan mengambil gelar master dan
doktor Filsafat
dari Universiti Sains Malaysia di Penang, Malaysia, di
mana pada saat yang bersamaan ia menjadi dosen di universitas tersebut.
Sekembalinya ke Indonesia, Hadi menerima tawaran dari teman lamanya Nurcholis
Madjid untuk mengajar di Universitas Paramadina,
Jakarta, universitas yang sama yang mengukuhkannya sebagai Guru Besar Falsafah
dan Agama di tahun 2008.
Karier
Keterlibatannya dalam dunia jurnalistik diawali sejak
menjadi mahasiswa, di mana Hadi menjadi redaktur Gema Mahasiswa (1967-1968) dan redaktur Mahasiswa
Indonesia
(1969-1974). Kemudian ia menjadi Redaktur
Pelaksana majalah Budaya Jaya (1977-1978), redaktur majalah Kamar Dagang dan Industri Indonesia (KADIN) (1979-1981), redaktur Balai Pustaka (1981-1983) dan redaktur jurnal
kebudayaan Ulumul Qur'an.. Sejak 1979 sampai awal 1990-an ia menjabat sebagai
redaktur kebudayaan harian Berita Buana. Tahun 1982 ia dilantik menjadi Ketua Dewan Kesenian Jakarta dan ketika reformasi bergulir, dalam pemilu multi partai 1999, atas
desakan rekannya Dr. H. Hamzah Haz, Abdul Hadi didesak maju sebagai
wakil daerah wilayah pemilihan Jawa Timur dari Partai Persatuan Pembangunan (PPP). Tahun 2000 ia dilantik menjadi anggota Lembaga
Sensor Film dan
sampai saat ini dia menjabat Ketua Dewan Kurator Bayt al-Qur'an dan Museum Istiqlal, Ketua Majlis Kebudayaan Muhammadiyah, anggota Dewan Pakar Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) dan anggota Dewan Penasihat PARMUSI
(Persaudaraan Muslimin Indonesia).
Sebagai pengajar, saat ini tercatat sebagai dosen tetap Fakultas Falsafah Universitas
Paramadina, dosen
luar biasa Fakultas Ilmu Budaya Universitas
Indonesia, dan dosen
pascasarjana Universitas Muhammadiyah Jakarta dan The Islamic College for Advanced
Studies (ICAS) London kampus Jakarta.
Sebagai sastrawan, Hadi bersama sahabat-sahabatnya antara
lain Taufik
Ismail, Sutardji
Calzoum Bachri, Hamid Jabar dan Leon Agusta menggerakkan program Sastrawan
Masuk Sekolah (SMS), di bawah naungan Departemen Pendidikan Nasional dan Yayasan Indonesia, dengan sponsor dari The Ford Foundation.
Karya
Sekitar tahun 1970-an, para pengamat menilainya sebagai
pencipta puisi sufis. Ia memang menulis tentang kesepian, kematian, dan waktu.
Seiring dengan waktu, karya-karyanya kian kuat diwarnai oleh tasawuf Islam.
Orang sering membandingkannya dengan sahabat karibnya Taufik Ismail, yang juga berpuisi religius. Namun
ia membantah. “Dengan tulisan, saya mengajak orang lain untuk mengalami
pengalaman religius yang saya rasakan. Sedang Taufik menekankan sisi
moralistisnya.”
Saat itu sejak 1970-an kecenderungan estetika Timur
menguat dalam sastra Indonesia kontemporeran, puitika sufistik yang
dikembangkan Abdul Hadi menjadi mainstream cukup dominan dan cukup banyak
pengaruh dan pengikutnya. Tampak ia ikut menafasi kebudayaan dengan puitika
sufistik dan prinsip-prinsip seni Islami,ikut mendorong masyarakat ke arah
pencerahan sosial dan spiritual yang dianggap sebagai penyeimbang pengaruh
budaya Barat hedonis dan sekuler.
Sampai saat ini Abdul Hadi telah menulis beberapa buku
penelitian filsafat di antaranya Kembali ke Akar Kembali ke Sumber:
Esai-esai Sastra Profetik dan Sufistik (Pustaka Firdaus, 1999), Islam:
Cakrawala Estetik dan Budaya (Pustaka Firdaus, 1999), Tasawuf Yang
Tertindas, serta beberapa buku kumpulan puisi antara lain At Last We
Meet Again, Arjuna in Meditation (bersama Sutardji
Calzoum Bachri dan Darmanto Yatman), Laut Belum Pasang, Meditasi, Cermin,
Tergantung pada Angin, Potret Panjang Seorang Pengunjung Pantai Sanur,
Anak Laut Anak Angin, Madura: Luang Prabhang dan Pembawa Matahari,
sejumlah karya terjemahan sastra sufi dan sastra dunia, terutama karya Iqbal,
Rumi, Hafiz, Goethe, penyair sufi Persia dan penyair modern Jepang. Selain itu,
ia juga menulis beberapa buku dongeng anak-anak untuk Balai Pustaka.
Puisi-puisinya telah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris, Prancis, Belanda, Jepang, Jerman, Cina, Thailand, Arab, Bengali, Urdu, Korea dan Spanyol.
Penghargaan
Bulan
Maret 2011, Hadi memperoleh Penghargaan Satyalancana Kebudayaan 2010 dari
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.
Menurut Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Jero
Wacik, penghargaan diberikan berdasarkan pertimbangan bahwa si
penerima memiliki jasa besar di bidang kebudayaan yang telah mampu melestarikan
kebudayaan daerah atau nasional serta hasil karyanya berguna dan bermanfaat
bagi masyarakat, bangsa, dan negara. [30]
Daftar Penghargaan
- Hadiah Puisi Terbaik II Majalah Sastra Horison (1969)
- Hadiah Buku Puisi Terbaik Dewan Kesenian Jakarta (1978)
- Anugerah Seni Pemerintah Republik Indonesia (1979)
- South-East Asia (SEA) Write Award, Bangkok, Thailand (1985)
- Anugerah Mastera (Majelis Sastra Asia Tenggara) (2003)
- Penghargaan Satyalancana Kebudayaan Pemerintah Republik Indonesia (2010)
Kehidupan Pribadi
Tahun
1978 ia menikah dengan wartawati dan pelukis Tedjawati Koentjoro, dan dikarunia
tiga orang putri Gayatri Wedotami, Dian Kuswandini dan Ayusha Ayutthaya. Ia
juga menyukai karya Bach, Beethoven, dan The Beatles.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar