Jumat, 24 Januari 2014

PERKEMBANGAN AGAMA PADA USIA REMAJA



PENDAHULUAN

Masa remaja adalah masa yang seolah-olah tidak memiliki tempat yang jelas, ia tidak termasuk golongan anak juga tidak termasuk golongan dewasa. Karena remaja belumlah mampu menguasai fungsi fisik maupun psikisnya. Oleh karena itu masa remaja biasa kita dengar sebagai masa transisi atau masa peralihan.
Sejalan dengan perkembangan jasmani dan rohaninya maka agama pada remaja turut dipengaruhi perkembangan itu. Penghayatan pada remaja terhadap ajaran agama dan tindak keagamaan yang tampak pada para remaja banyak berkaitan dengan faktor – faktor perkembangan tersebut.
Maka dari itu penulis ingin membahas lebih lanjut lagi mengenai masa remaja ini, dengan batas bahasan meliputi apa pengertian dari remaja, bagaimana psikologi remaja dan bagaimana perkembangan jiwa keagamaan para remaja itu sendiri. Dengan harapan supaya bisa menambah pengetahuan mengenai hal ini.
PEMBAHASAN

1.      Perkembangan Rasa Agama
Dalam pembagian tahap perkembangan manusia, maka masa remaja menduduki tahap progresif. Dalam pembagian yang agak terurai masa remaja mencakup masa Juvenilitas (adolescantium), pubertas, dan nubilitas.
Perkembangan agama pada remaja ditandai oleh beberapa faktor perkembangan jasmani dan rohaninya. Perkembangan itu antara lain menurut W. Starbuck adalah :
a.       Pertumbuhan Pikiran dan Mental
Ide dan dasar keyakinan beragama yang diterima remaja dari masa kanak-kanaknya sudah tidak begitu menarik bagi mereka. Sifat kritis terhadap ajaran agama mulai timbul. Selain masalah agama mereka pun sudah tertarik dari masalah kebudayaan, sosial, ekonomi, dan norma-norma kehidupan lainnya.
Dalam penelitian Allport, Gillesphy, dan Young menyatakan bahwa agama yang ajarannya bersifat lebih konservatif lebih banyak berpengaruh bagi para remaja untuk tetap taat kepada ajaran agamanya. Namun sebaliknya agama yang ajarannya kurang konservatif-dogmatis dan agak liberal akan mudah merangsang pemiikiran pengembangan pikiran dan mental para remaja sehingga mereka banyak meninggalkan agamanya
b.      Perkembangan Perasaan
Berbagai perasaan telah berkembang pada masa remaja. Perasaan sosial, etis,  dan estesis mendorong remaja untuk menghayati perikehidupan yang terbiasa dalam lingkungannya. Kehidupan religius akan cenderung mendorong dirinya lebih dekat ke arah hidup yang religius pula. Sebaliknya, bagi remaja yang kurang mendapat pendidikan dan siraman ajaran agama akan lebih mudah didominasi dorongan seksual.


c.       Pertimbangan Sosial
Corak keagamaan para remaja juga ditandai oleh adanya pertimbangan sosial. Dalam kehidupan keagamaan mereka timbul konflik antara pertimbangan moral dan material. Karena kehidupan duniawi lebih dipengaruhi akan kepentingan materi, maka para remaja cenderung sifatnya materialis. Hasil penyelidikan Ernest Harms terhadap 1789 remaja Amerika antara usia 18-29 tahun menunjukan bahwa 70% pemikiran remaja ditujukan bagi kepentingan keuangan, kesejahteraan, kebahagiaan, kehormatan diri dan masalah kesenangan pribadi lainnya. Sedangkan masalah masalah akhirat dan keagamaan hanya sekitar 3,6%, dan masalah sosial 5,8%.
d.      Perkembangan Moral
Perkembangan moral para remaja bertitik tolak dari rasa berdosa dan usaha untuk mencari proteksi. Tipe moral yang juga terlihat pada para remaja juga mencakupi:
1.      Self-directive, taat terhadap agama atau moral berdasarkan pertimbangan pribadi.
2.      Adaptive, mengikuti situasi lingkungan tanpa mengadakan kritik.
3.      Submissive, merasakan adanya keraguan terhadap ajaran moral dan agama.
4.      Unnajusted, belum meyakini akan keberadaan ajaran agama dan moral.
5.      Deviant, menolak dasar dan hukum keagamaan serta tatanan moral masyarakat.
e.       Sikap dan Minat
Sikap dan minat remaja terhadap masalah keagamaan boleh dikatakan sangat kecil dan hal ini tergantung dari kebiasaan masa kecil serta lingkungan agama yang mempengaruhi mereka (besar kecil minatnya)
f.       Ibadah
Pandangan para remaja terhadap ajaran agama (ibadah), mereka hanya menganggap ibadah adalah sebuah media untuk bermeditasi dan sedikit remaja yang mengatakan bahwasanya ibadah adalah alat untuk berkomunikasi terhadap Tuhan. Hal tersebut terbukti karena lebih banyaknya remaja yang tidak melaksanakan ibadah dibandingkan remaja yang melaksanakan ibadah secara benar.

2.      Konflik dan Keraguan serta Penyebabnya
Dari analisis hasil penelitiannya, W. Starbuck menemukan penyebab timbulnya konflik dan keraguan tentang ajaran agama pada para remaja, faktor-faktornya antara lain yaitu :
1.      Kepribadian, yang menyangkut salah tafsir dan jenis kelamin
a.       Bagi seseorang yang memiliki kepribadian introvert, maka kegagalan dalam mendapatkan pertolongan Tuhan akan menyebabkan salah tafsir akan sifat Tuhan Yang Maha Pengasih dan Penyayang
b.      Perbedaan jenis kelamin dan kematangan merupakan faktor yang menentukan dalam keraguan agama. Wanita yang lebih cepat matang dalam perkembangannya lebih cepat menunjukkan keraguan daripada remaja pria. Tetapi sebaliknya, dalam kualitas dan kuantitas keraguan ramaja putri lebih kecil jumlahnya.
2.      Kesalahan Organisasi Keagamaan dan Pemuka Agama
Ada berbagai lembaga keagamaan, organisasi, dan aliran keagamaan yang kadang-kadang menimbulkan kesan adanya pertentangan dalam ajarannya. Pengaruh ini dapat menjadi penyebab timbulnya keraguan para remaja. Demikian pula tindak-tanduk pemuka agama yang tidak sepenuhnya menuruti tuntutan agama.
3.      Pernyataan Kebutuhan Manusia
Manusia memiliki sifat konservatif (senang dengan yang sudah ada) dan dorongan curiosity (dorongan ingin tahu). Berdasarkan faktor bawaan ini maka keraguan memang harus ada pada diri manusia, karena hal itu merupakan pernyataan dari kebutuhan manusia normal. Ia terdorong untuk mempelajari ajaran agama dan kalau ada perbedaan-perbedaan yang kurang sejalan dengan apa yang telah dimilikinya akan timbul keraguan.
4.      Kebiasaan
Seseorang yang terbiasa akan suatu tradisi keagamaan yang dianutnya akan ragu menerima kebenaran ajaran yang baru diterimanya atau dilihatnya.
5.      Pendidikan
Dasar pengetahuan yang dimiliki seseorang serta tingkat pendidikan yang dimilikinya akan mempengaruhi sikapnya terhadap ajaran agama. Remaja yang terpelajar akan menjadi lebih kritis terhadap ajaran agamanya, terutama yang banyak mengandung ajaran yang bersifat dogmatis.
6.      Percampuran antara Agama dan Mistik
Para ramaja merasa ragu untuk menentukan antara unsur agama dengan mistik. Sejalan dengan perkembangan masyarakat kadang-kadang secara tak disadari tindak keagamaan yang mereka lakukan ditopang oleh praktik kebatinan dan mistik. Penyatuan unsur ini merupakan suatu dilema yang kabur bagi para remaja.
Keraguan-raguan yang demikian akan menjurus ke arah munculnya konflik dalam diri para remaja, sehingga mereka dihadapkan kepada pemilihan antara mana yang baik dan yang buruk, serta antara yang benar dan yang salah.
Konflik ada beberapa macam, di antaranya:
1.      Konflik yang terjadi antara percaya dan ragu.
2.      Konflik yang terjadi antara pemilihan satu di antara dua macam agama atau ide keagamaan serta lembaga keagamaan.
3.      Konflik yang terjadi oleh pemilihan antara ketaatan beragama atau sekularisme.
4.      Konflik yang terjadi antara melepaskan kebiasaan masa lalu dengan kehidupan keagamaan yang didasarkan atas petunjuk Ilahi.
Tingkat keyakinan dan ketaatan beragama para remaja, sebenarnya banyak tergantung dari kemampuan mereka menyelesaikan keraguan dan konflik batin yang terjadi dalam diri. Usia remaja memang dikenal sebagai usia rawan. Remaja memiliki karakteristik khusus dalam pertumbuhan dan perkembangannya. Secara fisik remaja mengalami pertumbuhan yang pesat dan sudah menyamai fisik orang dewasa. Namun, pesatnya pertumbuhan fisik itu belum diimbangi secara setara oleh perkembangan psikologisnya. Kondisi seperti itu menyebabkan remaja mengalami kelabilan.


PENUTUP

1.      Perkembangan agama pada remaja ditandai oleh beberapa faktor perkembangan jasmani dan rohaninya. Perkembangan itu antara lain menurut W. Starbuck adalah :
a.       Pertumbuhan Pikiran dan Mental
b.      Perkembangan Perasaan
c.       Pertimbangan Sosial
d.      Perkembangan Moral
e.       Sikap dan Minat
f.       Ibadah

2.      Faktor-faktor penyebab timbulnya konflik dan keraguan tentang ajaran agama pada para remaja, menurut W. Starbuck yaitu :
a.       Kepribadian, yang menyangkut salah tafsir dan jenis kelamin
b.      Kesalahan Organisasi Keagamaan dan Pemuka Agama
c.       Pernyataan Kebutuhan Manusia
d.      Kebiasaan
e.       Pendidikan
f.       Percampuran antara Agama dan Mistik


DAFTAR PUSTAKA

Prof. Dr. H. Jalaluddin. 2011. Psikologi Agama. Jakarta : PT Rajagrafindo Persada


 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar