PENDAHULUAN
Masa
remaja adalah masa yang seolah-olah tidak memiliki tempat yang jelas, ia tidak
termasuk golongan anak juga tidak termasuk golongan dewasa. Karena remaja
belumlah mampu menguasai fungsi fisik maupun psikisnya. Oleh karena itu masa
remaja biasa kita dengar sebagai masa transisi atau masa peralihan.
Sejalan
dengan perkembangan jasmani dan rohaninya maka agama pada remaja turut
dipengaruhi perkembangan itu. Penghayatan pada remaja terhadap ajaran agama dan
tindak keagamaan yang tampak pada para remaja banyak berkaitan dengan faktor –
faktor perkembangan tersebut.
Maka
dari itu penulis ingin membahas lebih lanjut lagi mengenai masa remaja ini,
dengan batas bahasan meliputi apa pengertian dari remaja, bagaimana psikologi
remaja dan bagaimana perkembangan jiwa keagamaan para remaja itu sendiri.
Dengan harapan supaya bisa menambah pengetahuan mengenai hal ini.
PEMBAHASAN
1. Perkembangan Rasa Agama
Dalam pembagian tahap perkembangan manusia, maka
masa remaja menduduki tahap progresif. Dalam pembagian yang agak terurai masa
remaja mencakup masa Juvenilitas (adolescantium), pubertas, dan nubilitas.
Perkembangan agama pada remaja ditandai oleh
beberapa faktor perkembangan jasmani dan rohaninya. Perkembangan itu antara
lain menurut W. Starbuck adalah :
a.
Pertumbuhan Pikiran dan Mental
Ide dan dasar keyakinan beragama yang diterima
remaja dari masa kanak-kanaknya sudah tidak begitu menarik bagi mereka. Sifat
kritis terhadap ajaran agama mulai timbul. Selain masalah agama mereka pun
sudah tertarik dari masalah kebudayaan, sosial, ekonomi, dan norma-norma
kehidupan lainnya.
Dalam penelitian Allport, Gillesphy, dan Young menyatakan
bahwa agama yang ajarannya bersifat lebih konservatif lebih banyak berpengaruh
bagi para remaja untuk tetap taat kepada ajaran agamanya. Namun sebaliknya
agama yang ajarannya kurang konservatif-dogmatis dan agak liberal akan mudah
merangsang pemiikiran pengembangan pikiran dan mental para remaja sehingga
mereka banyak meninggalkan agamanya
b.
Perkembangan Perasaan
Berbagai perasaan telah berkembang pada masa
remaja. Perasaan sosial, etis, dan estesis mendorong remaja untuk
menghayati perikehidupan yang terbiasa dalam lingkungannya. Kehidupan religius
akan cenderung mendorong dirinya lebih dekat ke arah hidup yang religius pula.
Sebaliknya, bagi remaja yang kurang mendapat pendidikan dan siraman ajaran
agama akan lebih mudah didominasi dorongan seksual.
c.
Pertimbangan Sosial
Corak keagamaan para remaja juga ditandai oleh
adanya pertimbangan sosial. Dalam kehidupan keagamaan mereka timbul konflik
antara pertimbangan moral dan material. Karena kehidupan duniawi lebih
dipengaruhi akan kepentingan materi, maka para remaja cenderung sifatnya
materialis. Hasil penyelidikan Ernest Harms terhadap 1789 remaja Amerika antara
usia 18-29 tahun menunjukan bahwa 70% pemikiran remaja ditujukan bagi
kepentingan keuangan, kesejahteraan, kebahagiaan, kehormatan diri dan masalah
kesenangan pribadi lainnya. Sedangkan masalah masalah akhirat dan keagamaan
hanya sekitar 3,6%, dan masalah sosial 5,8%.
d.
Perkembangan Moral
Perkembangan moral para remaja bertitik tolak
dari rasa berdosa dan usaha untuk mencari proteksi. Tipe moral yang juga
terlihat pada para remaja juga mencakupi:
1.
Self-directive, taat
terhadap agama atau moral berdasarkan pertimbangan pribadi.
2.
Adaptive, mengikuti
situasi lingkungan tanpa mengadakan kritik.
3.
Submissive, merasakan
adanya keraguan terhadap ajaran moral dan agama.
4.
Unnajusted, belum
meyakini akan keberadaan ajaran agama dan moral.
5.
Deviant, menolak
dasar dan hukum keagamaan serta tatanan moral masyarakat.
e.
Sikap dan Minat
Sikap dan minat remaja terhadap masalah
keagamaan boleh dikatakan sangat kecil dan hal ini tergantung dari kebiasaan
masa kecil serta lingkungan agama yang mempengaruhi mereka (besar kecil
minatnya)
f.
Ibadah
Pandangan para remaja terhadap ajaran agama
(ibadah), mereka hanya menganggap ibadah adalah sebuah media untuk bermeditasi
dan sedikit remaja yang mengatakan bahwasanya ibadah adalah alat untuk
berkomunikasi terhadap Tuhan. Hal tersebut terbukti karena lebih banyaknya
remaja yang tidak melaksanakan ibadah dibandingkan remaja yang melaksanakan
ibadah secara benar.
2. Konflik dan Keraguan serta Penyebabnya
Dari
analisis hasil penelitiannya, W. Starbuck menemukan penyebab timbulnya konflik
dan keraguan tentang ajaran agama pada para remaja, faktor-faktornya antara
lain yaitu :
1. Kepribadian, yang menyangkut salah tafsir
dan jenis kelamin
a.
Bagi seseorang yang memiliki kepribadian introvert, maka kegagalan dalam
mendapatkan pertolongan Tuhan akan menyebabkan salah tafsir akan sifat Tuhan
Yang Maha Pengasih dan Penyayang
b.
Perbedaan jenis kelamin dan kematangan merupakan
faktor yang menentukan dalam keraguan agama. Wanita yang lebih cepat matang
dalam perkembangannya lebih cepat menunjukkan keraguan daripada remaja pria.
Tetapi sebaliknya, dalam kualitas dan kuantitas keraguan ramaja putri lebih
kecil jumlahnya.
2. Kesalahan Organisasi Keagamaan dan Pemuka
Agama
Ada berbagai lembaga keagamaan, organisasi, dan
aliran keagamaan yang kadang-kadang menimbulkan kesan adanya pertentangan dalam
ajarannya. Pengaruh ini dapat menjadi penyebab timbulnya keraguan para remaja.
Demikian pula tindak-tanduk pemuka agama yang tidak sepenuhnya menuruti
tuntutan agama.
3. Pernyataan Kebutuhan Manusia
Manusia memiliki sifat konservatif (senang
dengan yang sudah ada) dan dorongan curiosity
(dorongan ingin tahu). Berdasarkan faktor bawaan ini maka keraguan memang
harus ada pada diri manusia, karena hal itu merupakan pernyataan dari kebutuhan
manusia normal. Ia terdorong untuk mempelajari ajaran agama dan kalau ada
perbedaan-perbedaan yang kurang sejalan dengan apa yang telah dimilikinya akan
timbul keraguan.
4. Kebiasaan
Seseorang yang terbiasa akan suatu tradisi
keagamaan yang dianutnya akan ragu menerima kebenaran ajaran yang baru
diterimanya atau dilihatnya.
5. Pendidikan
Dasar pengetahuan yang dimiliki seseorang serta
tingkat pendidikan yang dimilikinya akan mempengaruhi sikapnya terhadap ajaran
agama. Remaja yang terpelajar akan menjadi lebih kritis terhadap ajaran
agamanya, terutama yang banyak mengandung ajaran yang bersifat dogmatis.
6. Percampuran antara Agama dan Mistik
Para ramaja merasa ragu untuk menentukan antara
unsur agama dengan mistik. Sejalan dengan perkembangan masyarakat kadang-kadang
secara tak disadari tindak keagamaan yang mereka lakukan ditopang oleh praktik
kebatinan dan mistik. Penyatuan unsur ini merupakan suatu dilema yang kabur
bagi para remaja.
Keraguan-raguan yang demikian akan menjurus ke
arah munculnya konflik dalam diri para remaja, sehingga mereka dihadapkan kepada
pemilihan antara mana yang baik dan yang buruk, serta antara yang benar dan
yang salah.
Konflik ada beberapa macam, di antaranya:
1.
Konflik yang terjadi antara percaya dan ragu.
2.
Konflik yang terjadi antara pemilihan satu di
antara dua macam agama atau ide keagamaan serta lembaga keagamaan.
3.
Konflik yang terjadi oleh pemilihan antara
ketaatan beragama atau sekularisme.
4.
Konflik yang terjadi antara melepaskan kebiasaan
masa lalu dengan kehidupan keagamaan yang didasarkan atas petunjuk Ilahi.
Tingkat keyakinan dan ketaatan beragama para
remaja, sebenarnya banyak tergantung dari kemampuan mereka menyelesaikan
keraguan dan konflik batin yang terjadi dalam diri. Usia remaja memang dikenal
sebagai usia rawan. Remaja memiliki karakteristik khusus dalam pertumbuhan dan
perkembangannya. Secara fisik remaja mengalami pertumbuhan yang pesat dan sudah
menyamai fisik orang dewasa. Namun, pesatnya pertumbuhan fisik itu belum
diimbangi secara setara oleh perkembangan psikologisnya. Kondisi seperti itu
menyebabkan remaja mengalami kelabilan.
PENUTUP
1.
Perkembangan agama pada remaja ditandai oleh
beberapa faktor perkembangan jasmani dan rohaninya. Perkembangan itu antara
lain menurut W. Starbuck adalah :
a.
Pertumbuhan Pikiran dan Mental
b.
Perkembangan Perasaan
c.
Pertimbangan Sosial
d.
Perkembangan Moral
e.
Sikap dan Minat
f.
Ibadah
2.
Faktor-faktor penyebab timbulnya konflik dan
keraguan tentang ajaran agama pada para remaja, menurut W. Starbuck yaitu :
a.
Kepribadian,
yang menyangkut salah tafsir dan jenis kelamin
b.
Kesalahan
Organisasi Keagamaan dan Pemuka Agama
c.
Pernyataan
Kebutuhan Manusia
d.
Kebiasaan
e.
Pendidikan
f.
Percampuran
antara Agama dan Mistik
DAFTAR
PUSTAKA
Prof. Dr. H. Jalaluddin. 2011. Psikologi Agama. Jakarta : PT
Rajagrafindo Persada
Tidak ada komentar:
Posting Komentar