Jumat, 24 Januari 2014

PENGERTIAN PENDIDIKAN ISLAM



A.    PENGERTIAN PENDIDIKAN ISLAM
Pendidikan dalam wacana keislaman lebih populer dengan istilah tarbiyah, ta’lim, ta’dib, riyadhah, al-tazkiyah, tadris, dan tafaqquh.
1.      Tarbiyah
Menurut Mu’jam (kamus) kebahasaan, kata al-tarbiyah memiliki tiga akar kebahasaan, yaitu:
a.       Rabba, yarbu, tarbiyah: yang memiliki makna tambah (zad) dan berkembang (nama). Pengertian ini didasarkan pada Q.S. Al-Rum:39
b.      Rabba, yurbi, tarbiyah: yang memiliki arti tumbuh (nasya’) dan menjadi besar (tara’ra’a)
c.       Rabba, yarubbu, tarbiyah: yang memiliki arti memperbaiki (ashlaha), menguasai urusan, memelihara, merawat, menunaikan.[1]
Jika ketiga kata tersebut dibandingkan atau diintegrasikan antara satu dan lainnya, terlihat bahwa ketiga kata tersebut saling menunjang dan saling melengkapi. Namun jika dilihat dari segi penggunaanya, tampak istilah yang ketiga lebih banyak digunakan. Selanjutnya, jika ketiga kata tersebut diintegrasikan, maka akan diperoleh pengertian, bahwa al-tarbiyah berarti proses menumbuhkan dan mengembangkan potensi (fisik, intelektual, sosial, estetika, dan spiritual) yang terdapat pada peserta didik, sehingga dapat tumbuh dan terbina dengan optimal, melalui cara memelihara, mengasuh, merawat, memperbaiki, dan mengaturnya secara sisitematis dan berlanjutan. Dengan demikian, pada kata al-tarbiyah tersebut mengandung cakupan tujuan pendidikan, yaitu menumbuhkan dan mengemmbangkan potensi, dan proses pendidikan, yaitu memelihara, mengasuh, merawat, memperbaiki dan mengaturnya[2]
Selanjutnya, kata al-tarbiyah dijumpai pada surat al-Isra’:24, yang artinya:
“Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: “wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil”.
Kata rabbaniy pada ayat tersebut dengan jelas diartikan pendidikan, yaitu pendidikan yang diberikan oleh kedua orang tua kepada anaknya.
2.      Al-ta’lim
Mahmud Yunus dengan singkat mengartikan al-ta’lim adalah hal yang berkaitan dengan mengajar dan melatih. Sementara itu, Muhammad Rasyid Ridha mengartikan al-ta’lim sebagai proses transmisi berbagai ilmu pengetahuan pada jiwa individu tanpa adanya batasan dan ketentuan tertentu. H.M. Quraisy Shihab, ketika mengartikan kata yuallimu sebagaimana terdapat pada surat al-Jumu’ah:2, dengan arti mengajar yang intinya tidak lain kecuali mengisi benak anak didik dengan pengetahuan yang berkaitan dengan alam metafisika serta fisika.
Kata al-ta’lim atau asal katanya, yaitu ‘allam, yu’allimu, ta’liman dijumpai dalam hadis sebagai berikut:
“Pengetahuan adalah kehidupan Islam pada pilar iman, dan barang siapa yang mengajarkan ilmu Allah akan menyempurnakan pahala baginya, dan barang siapa yang mengajarkan ilmu dan ia mengamalkan ilmu yang diajarkannya itu, maka Allah akan mengajarkan kepadanya sesuatu yang ia belum ketahui”. (HR. Abu Syaikh).[3]
3.      Al-Ta’dib
Kata Al-Ta’dib berasal dari kata addaba, yuaddibu, ta’diban yang dapat berarti education (pendidikan), discipline (disiplin, patuh, dan tunduk pada aturan), punishment (peringatan atau hukuman), dan chastisement (hukuman-penyucian). Kata al-ta’dib berasal dari kata adab yang berarti beradab, bersopan santun, tata krama, adab, budi pekerti, akhlak, moral dan etika.[4] Ta’dib yang seakar dengan adab memiliki arti pendidikan peradaban atau kebudayaan. Artinya, orang yang berpendidikan adalah orang yang berperadaban, sebaliknya, peradaban yang berkualitas dapat diraih melalui pendidikan. Menurut Al-Naquib al-Attas, ta’dib berarti pengenalan dan pengakuan yang secara berangsur-angsur ditanamkan kepada manusia tentang tempat-tempat yang tepat dari segala sesuatu didalam tatanan penciptaan, sehingga membimbing kearah pengenalan dan pengakuan kekuatan dan keagungan Tuhan. Pengertian ini didasarkan hadis Nabi SAW:
“Tuhanku telah mendidik ku, sehingga menjadikan baik pendidikanku”.
“aku diutus untuk memperbaiki kemuliaan akhlak”. (HR. Malik bin Anas dari Anas bin Malik).
Kedua hadis tersebut menunjukkan bahwa kompetensi Muhammad sebagai seorang Rasul dan misi utamanya adalah pembinaan akhlak karena itulah, maka seluruh aktivitas pendidikan Islam seharusnya memiliki relevansi dengan peningkatan kualitas budi pekerti sebagaimana yang diajarkan oleh Rasulullah SAW.[5]
4.      Riyadhah
Al-Ghazali yang menawarkan istilah al-Riyadhah. Baginya, al-Riyadhah adalah proses pelatihan individu pada masa kanak-kanak. Berdasarkan pengertian tersebut, al-Ghazali hanya mengkhususkan penggunaan al-Riyadhah untuk fase kanak-kanak, sedang fase yang lain tidak tercakup di dalamnya.[6]
5.      Al-Tazkiyah
Al-Tazkiyah berasal dari kata zakka-yuzakki-tazkiyatan yang berarti purification (pemurnian atau pembersihan), chastening (kesucian dan kemurnian), pronouncement of (pengumuman atau pernyataan), integrity or credibility (ketulusan hati, kejujuran atau dapat dipercaya), attestation of a witness (pengesahan atas kesaksian), honorable record (catatan yang dapat dipercaya dan dihormati).
Didalam Al-Qur’an, kata al-tazkiyah antara lain dapat dijumpai pada surat al-Jumu’ah:2, yang artinya:
“Dia-lah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul diantara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, menyucikan mereka dan mengajarkan kepada mereka Kitab dan hikmah as-Sunnah. Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata.”
Kata yuzakkihim (menyucikan mereka) pada ayat tersebut, menurut H.M. Quraisy Shihab, dapat diidentikkan dengan mendidik, sedangkan mengajar tidak lain kecuali mengisi benak anak didik dengan pengetahuan yang berkaitan dengan alam metafisika serta fisika.[7]
6.      Al-Tadris
Dalam Al-Qur’an, kata al-tadris terdapat pada surat: Q.S. al-An’am:105, Q.S. al-A’raf:169, Q.S. al-Qalam: 37, dan Q.S. Saba’:44.
Pada ayat tersebut, kata al-tadris mengandung arti mempelajai dan membaca yang pada hakikatnya merupakan aktivitas yang terjadi pada pengajaran atau proses pembelajaran.
7.      Al-Tafaqquh
Kata al-tafaqquh berasal dari kata tafaqqaha-yatafaqqohu-tafaqquhan, yang berarti mengerti, dan memahami. Dalam Al-Qur’an, kata al-tafaqquh terdapat pada Q.S. An-nisa:78, Q.S. al-An’am:65, Q.S. at-Taubah:122.
Kata al-tafaqquh selanjutnya lebih digunakan untuk menunjukkan pada kegiatan pendidikan dan pengajaran ilmu agama Islam.[8]
Pengertian pendidikan Islam dari segi Istilah
Pertama, Muhammad S.A. Ibrahini (Bangladesh) menyatakan bahwa pendidikan Islam adalah: “pendidikan Islam dalam pandangan yang sebenarnya adalah suatu sistem pendidikan yang memungkinkan seseorang dapat mengarahkan kehidupannya sesuai dengan ideology Islam, sehingga dengan mudah ia dapat membentuk hidupnya sesuai dengan ajaran Islam.
Kedua, Omar Muhammad al-Toumi al-Syaibani mendefinisikan pendidikan Islam dengan: “proses mengubah tingkah laku individu pada kehidupan pribadi, masyarakat dan alam sekitarnya, dengan cara pengajaran sebagai suatu aktivitas asasi dan sebagai profesi di antara profesi-profesi asasi dalam masyarakat.”
Ketiga, Muhammad Fadhil al-Jamali mengajukan pengertian pendidikan Islam dengan: “upaya mengembangkan, mendorong serta mengajak manusia untuk lebih maju dengan berlandaskan nilai-nilai yang tinggi dan kehidupan yang mulia, sehingga terbentuk pribadi yang lebih sempurna, baik yang berkaitan dengan akal, perasaan maupun perbuatan.
Keempat,  Muhammad Javed al-Sahlani dalam al-Tarbiyah wa al-Ta’lim Al-Qur’an al-Karim mengartikan pendidikan Islam dengan: “proses mendekatkan manusia kepada tingkat kesempurnaan dan mengembangkan kemampuannya”.
Kelima, hasil seminar pendidikan Islam se-Indonesia tahun 1960 dirumuskan pendidikan Islam dengan: “bimbingan terhadap pertumbuhan rohani dan jasmani menurut ajaran Islam dengan hikmah mengarahkan, mengajakan, melatih, mengasuh, dan mengawasi berlakunya semua ajaran Islam”.
Berdasarkan beberapa pengertian yang dikemukakan oleh para ahli diatas, serta beberapa pemahaman yang diturunkan dari beberapa istilah dalam pendidikan Islam, maka pendidikan Islam dapat dirumuskan sebagai berikut: “Proses transinternalisasi pengetahuan dan nilai Islam kepada peserta didik melalui upaya pengajaran, pembiasaan, bimbingan, pengasuhan, pengawasan, dan pengembangan potensinya, guna mencapai keselarasan dan kesempurnaan hidup didunia dan akhirat.”[9]
B.     PENDEKATAN SISTEM DALAM PENDIDIKAN ISLAM
Menurut Reja Mudyaharja, pendekatan sistem adalah cara-cara berfikir dan bekerja yang menggunakan konsep-konsep teori sistem yang relevan dalam memecahkan masalah.
Pada awalnya pendekatan sitem digunakan dalam bidang teknik, tetapi pada akhir tahun 1950 dan pada awal 1960-an, pendekatan sistem mulai diaplikasikan dalam bidang pendidikan seperti merumuskan masalah, analisis kebutuhan, analisis masalah, desaian metode, dan materi instriksional pelaksanaan secara eksperimental, menilai dan merevisi, dan sebagainya.
Dengan demikian pendekatan sistem merupakan proses pemecahan masalah yang logis untuk mencapai hasil pendidikan secara efektif dan efisien.
Salah satu model sistem adalah model: in-put, out-put.
Model Dasar Sebuah Sistem
Balikan






 



Model ini bila diaplikasikan dalam pendidikan islam dengan memasukkan komponen lain dalalm pengemmbangannya maka akan terlihat sebagai berikut:

Model Dasar Sistem Pendidikan Islam











 









 






Gambar diatas menunjukkan bahwa masukan (berupa individu yang mempunyai berbagai potensi dasar yang perlu dikembangkan) kemudian diproses (dalam bentujk transfer pengetahuan, transformasi pengetahuan, dan internalisasi nilai) untuk menghasilkan keluaran (berupa pribadi yang selalu mengabdi kepada Allah dan menjadi khalifah Allah fi al-Ardh), proses ini akan terlaksana dengan baik dan sempurna bila dibantu oleh instrument (materi ajar, metode, dan media) yang tepat dan lengkap serta enveouronment (alam, manusia, dan budaya) yang kondusif, sebagai pelaku utama dalam proses pendidikan ini adalah pendidik (orang tua, guru, dan tokoh masyarakat) sebagai pemegang amanah dari Allah untuk melaksanakan tugas suci (pendidikan Islam).[10]
C.    CIRI-CIRI SUATU SISTEM DAN KOMPONENNYA
Sesuatu teori sistem menurut Reja Mudyahardjo mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:
a.   Keseluruhan adalah hal yang utama dan bagian-bagian adalah hal yang kedua
b.  Integrasi adalah kondisi saling hubungan antara bagian-bagian dalam satu sistem
c.   Bagian-bagian membentuk sebuah keseluruhan yang tak dapat dipisahkan
d. Bagian-bagian memainkan peran mereka dalam kesatuannya untuk mencapai tujuan dari keseluruhan
e.  Sifat bagian dan fungsinya dalam keseluruhan dan tingkah lakunya diatur oleh keseluruhan terhadap hubungan-hubungan bagiannya
f.   Keseluruhan adalah sebuah sistem atau sebuah kompleks atau sebuah konfigurasi dari energy dan berperilaku seperti sesuatu unsure tunggal yang tidak kompleks
g.  Segala sesuatu haruslah dimulai dari keseluruhan sebagai suatu dasar, dan bagian-bagian serta hubungan-hubungan, baru kemudian terjadi secara berangsur-angsur
Sedangkan J.W. Getzel dan E.G. Guba menyatakan bahwa pada umumnya sistem sosial mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:
1.  Terdiri atas unsur-unsur yang saling berkaitan antara satu sama lain
2.  Berorientasi kepada tujuan yang ditetapkan
3.  Didalamnya terdapat peraturan-peraturan dan tata tertib berbagai kegiatan dan sebagainya
Bila diaplikasikan dalam sistem pendidikan maka komponen-komponennya pendidikan seperti yang dikemukakan para pakar sebagai berikut:
1.  Noeng Muhadjir membagi komponen sistem kepada tiga kategori yaitu:
a.       Bertolak dari lima unsur dasar pendidikan, meliputi: yng memberi, yang menerima, tujuan, cara/jalan, dan konteks positif
b.      Bertolak dari empat komponen pokok pendidikan, yaitu kurikulum, subjek didik, personifikasi pendidik, dan konteks belajar mengajar
c.       Bertolak dari tiga fungsi pendidikan, yaitu pendidikan kreativitas, pendidikan moralitas, dan pendidikan produktivitas.
2.  Selanjutnya penulis membagi sistem pendidikan tersebut atas empat unsur yaitu:
a.       Kegiatan pendidikan yang meliputi: pendidikan diri sendiri, pendidikan oleh lingkungan, pendidikan oleh seorang terhadap orang lain.
b.      Binaan pendidikan, mencakup: jasmani, akal dan qalbu.
c.       Tempat pendidikan, mencakup: rumah tangga, sekolah dan masyarakat.
d.      Komponen pendidikan, mencakup: dasar, tujuan, materi, metode, media, evaluasi, administrasi biasa, dana, dan sebagainya.[11]

D.    PERBEDAAN SISTEM PENDIDIKAN ISLAM DENGAN SISTEM PENDIDIKAN NON ISLAM
Sesuai dengan namanya (Islam dan Non-Islam), perbedaan keduanya terletak pada :
1.      Sistem Ideologi
Islam memiliki idiologi al-tauhid yang bersumber dari Al-Qur’an dan Sunnah. Sedangkan non-Islam memiliki berbagai macam ideologi yang bersumber dari isme-isme materialis, komunis, ateis, sosialis, kapitalis, dan sebagainya. Dengan begitu maka perbedaan kedua sistem tersebut adalah muatan ideologi yang mendasarinya.

2.      Sistem Nilai
Pendidikan Islam bersumber dari nilai Al-Qur’an dan Sunnah, sedang pendidikan non-Islam bersumberkan dari nilai yang lain. Formulasi ini relevan dengan kesimpulan di atas, sebab dalam ideologi Islam itu bermuatan nilai-nilai dasar Al-Qur’an dan Sunnah, sebagai sumber asal dan ijtihad sebagai sumber tambahan. Pendidikan non-Islam sebenarnya ada juga sumber nilainya, namun sumber nilainya hanya dari hasil pemikiran, hasil penelitian para ahli, dan adat kebiasaan masyarakat.
3.      Orientasi Pendidikan
Pendidikan Islam berorientasi kepada duniawi dan ukhrawi, sedangkan pendidikan non-Islam, orientasinya dunia semata. Di dalam Islam kehidupan akhirat merupakan kelanjutan dari kehidupan dunia, bahkan suatu mutu kehidupan akhirat konsekuensi dari mutu kehidupan dunia. Segala perbuatan muslim dalam bidang apapun memiliki kaitan dengan akhirat.
Islam sebagai agama yang bersifat universal berisi ajaran-ajaran yang dapat membimbing manusia kepada kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat.
Pendidikan Islam berfungsi untuk menghasilkan manusia yang dapat menempuh kehidupan yang indah di dunia dan kehidupan indah di akhirat serta terhindar dari siksaan Allah yang maha pedih.
Berbeda dengan pendidikan Barat yang bertitik tolak dari filsafat pragmatism, yaitu yang mengukur kebenaran menurut kepentingan waktu, tempat dan situasi, dan berakhir pada garis hayat. Filsafat ilmunya adalah kegunaan/utilitas. Fungsi pendidikan tidaklah sampai untuk menciptakan manusia yang dapat menempuh kehidupan yang indah di akhirat, akan tetapi terbatas pada kehidupan duniawiyah semata.

E.     PRINSIP-PRINSIP SISTEM PENDIDIKAN ISLAM
Prinsip berarti asas (kebenaran yang jadi pokok dasar orang berpikir, bertindak dan sebagainya). Dagobert D. Runes mengartikannya sebagai kebenaran yang  bersifat universal (universal truth) yang menjadi sifat dari sesuatu.
Dasar pendidikan Islam seperti yang dikemukakan oleh Ahmad D. Marimba, adalah Al-Qur’an dan hadits-hadits Nabi SAW yang merupakan sumber pokok ajaran Islam. Al-Syaibani memperluas lagi dasar tersebut mencakup ijtihad, pendapat, peninggalan, keputusan-keputusan dan amalan-amalan para ulama yang terdahulu (al-shalaf al-shalih) di kalangan umat Islam.
Prinsip pendidikan Islam juga ditegakkan di atas dasar yang sama dan berpangkal dari pandangan Islam secara filosofis terhadap jagad raya, manusia, masyarakat, ilmu pengetahuan dan akhlak. Pandangan Islam terhadap masalah-masalah tersebut, melahirkan berbagai prinsip dalam pendidikan Islam.
Berikut ini akan dijelaskan pula prinsip-prinsip sistem pendidikan Islam yang merupakan pandangan falsafi di atas yang tercermin nantinya dalam prinsip pendidikan. Adapun prinsip-prinsip yang dimaksud ialah:
1.     Prinsip Pendidikan Islam Merupakan Implikasi dari Karakteristik (Ciri-ciri) Manusia Menurut Islam
Ajaran Islam mengemukakan empat macam ciri-ciri manusia yang membedakannya dengan makhluk lain yaitu :
a)      Fitrah
b)      Kesatuan roh dan jasad (wandah al-ruh wa al-jism)
c)      Kebebasan berkehendak (hurriyah al-iradah)
2.     Prinsip Pendidikan Islam adalah Pendidikan Integral dan Terpadu
Pendidikan Islam tidak mengenal adanya pemisahan antara sains dan agama. Penyatuan antara kedua sistem pendidikan adalah tuntutan akidah Islam. Allah dalam doktrin ajaran Islam adalah pencipta alam semesta termasuk manusia. Dia pula yang menurunkan hukum-hukum untuk mengelola dan melestarikannya. Hukum-hukum mengenai alam fisik dinamakan sunnah Allah. Sedangkan pedoman hidup dan hukum-hukum untuk kehidupan manusia telah ditentukan pula dalam ajaran agama yang dinamakan din Allah, yang mencakup akidah dan syariah.

3.     Prinsip Pendidikan Islam adalah Pendidikan yang Seimbang
Pandangan Islam yang menyeluruh terhadap semua aspek kehidupan mewujudkan adanya keseimbangan. Ada beberapa prinsip keseimbangan yang mendasari pendidikan Islam yaitu:
a)      Keseimbangan antara kehidupan duniawi dan ukhrawi
b)      Keseimbangan antara jasmani dan rohani
c)      Keseimbangan antara individu dan masyarakat
4.     Prinsip Pendidikan Islam adalah Pendidikan yang Universal
Prinsip ini maksudnya adalah pandangan yang menyeluruh pada seluruh aspek kehidupan manusia. Agama Islam yang menjadi dasar pendidikan Islam itu bersifat menyeluruh terhadap wujud, alam jagat, dan hidup. Pendidikan Islam yang berdasarkan prinsip ini, bertujuan untuk menumbuhkan, mengembangkan, dan membangun segala aspek kepribadian manusia dan segala potensi dan dayanya. Juga mengembangkan segala segi kehidupan dalam masyarakat, seperti sosial budaya, ekonomi, politik, dan berusaha turut serta menyelesaikan masalah-masalah masyarakat masa kini dan bersiap menghadapi tuntutan-tuntutan masa depan dan memelihara sejarah dan kebudayaannya.
5.     Prinsip Pendidikan Islam adalah Pendidikan yang Dinamis
Pendidikan Islam dalam prinsip ini tidak statis dalam tujuan materi, kurikulum media dan metodenya, tetapi ia selalu membaharui diri dan berkembang. Ia memberikan respon terhadap kebutuhan-kebutuhan masyarakat sesuai dengan perkembangan dan perubahan sosial yang tidak bertentangan dengan ajaran dasar Islam. Begitu juga ia memberi respon terhadap kepentingan individu dan masyarakat dan syariat Islam memeliharanya, dan ia juga selalu membaharui diri untuk berkembang. Di antara cara-cara pembaruan dalam pendidikan adalah dengan memperbanyak penelitian dan eksperimen dalam pendidikan, dan bersifat terbuka terhadap perubahan.[12]


[1] Prof. Dr. Abdul Mujib, M.Ag., et.al., Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Kencana Prenada Media, 2006), hal. 10-11
[2] Prof. Dr. H. Abuddin Nata, M.A., Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2010), hal. 8
[3] Prof. Dr. H. Abuddin Nata, M.A., Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2010), hal. 10-12
[4] Prof. Dr. H. Abuddin Nata, M.A., Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2010), hal. 14
[5] Prof. Dr. Abdul Mujib, M.Ag., et.al., Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Kencana Prenada Media, 2006), hal. 20
[6] Prof. DR. H. Ramayulis, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Kalam Mulia, 2002), hal. 17
[7] Prof. Dr. H. Abuddin Nata, M.A., Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2010), hal. 19
[8] Prof. Dr. H. Abuddin Nata, M.A., Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2010), hal. 21-23
[9] . Dr. Abdul Mujib, M.Ag., et.al., Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Kencana Prenada Media, 2006), hal.25-27
[10] Prof. DR. H. Ramayulis, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Kalam Mulia, 2002), hal. 22-23
[11] Prof. DR. H. Ramayulis, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Kalam Mulia, 2002), hal. 20-21
[12] Prof. DR. H. Ramayulis, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Kalam Mulia, 2002), hal. 26-36

Tidak ada komentar:

Posting Komentar