KEPRIBADIAN
PENGAWAS
1.
Citra
Diri Pengawas
Gambaran
diri kita mulai dibentuk sejak kita anak-anak, pada masa itu setiap orang
membentuk identitasnya. Adanya identitas ini secara tidak sengaja telah
menjadikan setiap orang berbeda dengan orang lain. Gambaran diri yang telah
terbentuk, biasanya akan bertahan dan akan dipertahankan oleh yang bersangkutan
serta tidak mudah akan berubah.
Mengingat
perubahan itu tidak dapat serta merta terjadi dan sulit sekali, umumnya setiap
individu berusaha untuk mempertahankan gambaran diri yang telah ada. Jika hal
positif memang tidak menjadi persoalan, namun jika hal itu menjurus pada hal
yang negatif maka gambaran diri itu akan membawa pada keburukan. Dengan begitu
pengalaman keseharian yang diperoleh oleh seseorang akan sangat berharga dalam
memperbaiki citra diri seseorang.
Seorang
pengawas haruslah mengubah gambaran negatif tentang dirinya, dan berupaya
menambahkan gambaran positif. Hal ini penting dilakukannya mengingat sebagai
pengawas dirinya memiliki keharusan menampilkan pengetahuan dan sikap positif
pada para guru. Cermin negatif dari pengawas akan berdampak negatif pada diri
guru.
2.
Kesadaran Diri
Mencintai
diri sendiri, tidak berarti harus egois dengan hanya melakukan aktivitas yang
hanya untuk menyenangkan dirinya sendiri. Membandingkan diri kita (member
penilaian terhadap diri) dalam upaya kesadaran diri harus dilakukan. Hal ini
penting untuk memantau perasaan dari waktu ke waktu. Kesadaran diri penting
bagi pembentukan konsep diri yang positif. Terkait dengan konsep diri, ada tiga
hal yang harus dipahami, yaitu:
a. Pengetahuan
tentang diri kita;
b. Harapan
terhadap diri kita;
c. Penilaian
diri.
Pengetahuan
diri lebih merujuk pada berbagai informasi tentang diri kita (self basel) baik yang berasal dari orang
lain, ataupun pengetahuan yang berwujud kualitas diri (quality labels) yang berasal dari kemampuan yang dimiliki. Harapan
merupakan sesuatu yang diinginkan, yang hendak diwujudkan secara empiris dan
karena sifatnya abstrak harapan menjadi kekuatan untuk mendorong dan
mengarahkan aktivitas seseorang. Harapan antara individu satu dengan individu
lainnya relatif berbeda, meski yang bersangkutan terlahir kembar.
Penilaian
merupakan aktivitas membandingkan diri kita (saat ini) dengan serangkaian
standar (harapan untuk menjadi/could be
dan seharusnya menjadi/should be).
Jarak perbedaan antara kita saat ini dengan harapan kita untuk menjadi apa,
apalagi dengan yang seharusnya menjadi apa, menjadi parameter harga diri yang
bersangkutan. Semakin terpenuhinya harapan menjadi, ataupun seharusnya menjadi,
menandakan semakin tinggi self esteem (harga
diri) yang bersangkutan dan begitu sebaliknya.
Kesadaran
diri yang baik akan membentuk konsep diri yang positif, dan konsep diri ini
memiliki peranan penting dalam memperbaiki kepribadian dan gaya perilaku
seseorang. Konsep diri posiitif dicirikan dengan indikator:
a. Mengetahui
kelebihan dan kelemahan yang dimilikinya;
b. Menerima
dirinya apa adanya;
c. Memiliki
kesadaran dan keinginan untuk mengurangi kelemahan-kelemahan yang dimilikinya
berdasar informasi yang diterimanya.
Sebaliknya
konsep diri negatif dicirikan dengan:
a. Kurang
memahami kelebihan ataupun kelemahan yang dimilikinya;
b. Menolak
umpan balik terhadap dirinya (terutama jika hal itu negatif);
c. Konsep
dirinya tidak dapat diubah (kaku).
3.
Perilaku
Pasif, Agresif, dan Asertif
Agresivitas
kerap dimaknai sebagai segala bentuk perilaku yang dimaksudkan untuk melukai
orang, fisik maupun psikologis, (Brehm & Kassin, 1993, Sears, dkk., 1994;
Baron &Bryne, 1997) serangan atau tindak permusuhan pada orang lain
(Chaplin, 1995), Breakweel (1998), dan Brigham (1991) memberi catatan bahwa
perilaku tersebut bertentangan dengan kemauan korban, namun jika hal itu memang
dikehendaki, maka tidak lagi masuk dalam kategori agresi.
Beberapa
faktor yang diidentifikasi mempengaruhi perilaku agresi adalah genetik,
lingkungan, proses belajar individu, peristiwa spesifik dalam situasi tertentu,
instigation, inhibiton, frustasi, provokasi, media, alkohol, jenis kelamin.
Bentuk-bentuk
agresi tersebut dapat berupa:
a. Perilaku
agresif fisik aktif langsung;
b. Perilaku
agresif fisik aktif tak langsung;
c. Perilaku
agresif fisik pasif langsung;
d. Perilaku
agresif fisik pasif tak langsung;
e. Perilaku
agresif fisik verbal aktif langsung;
f. Perilaku
agresif fisik verbal aktif tak langsung;
g. Perilaku
agresif fisik verbal pasif langsung;
h. Perilaku
agresif fisik verbal pasif.
Berkebalikan
dengan perilaku agresif adalah perilaku pasif. Baik agresif ataupun pasif jelas
tidak pada tempatnya dikembangkan tanpa ada sebab, apalagi bagi seorang pengawas.
Jalan tengah yang harus ditempuh oleh pengawas adalah bersikap asertif.
Seorang
pengawas hendaklah menghindari untuk bersikap agresif atau pasif. Sebab
keduuanya justru akan menjadikan bawahan tidak termotivasi untuk melakukan
tugas-tugasnya dengan baik. Meski demikian, ada kalanya perilaku agresif dan
pasif diperlukan dengan kondisi-kondisi tertentu.
Seorang
pengawas harus menghindari perilaku agresi ini baik yang bersifat langsung
ataupun tidak langsung, verbal apalagi yang bersifat fisik. Mengingat fungsinya
sebagai Pembina bagi guru-guru di bawahnya, hendaknya harus diupayakan untuk
bersikap lebih asertif.
Pada
kenyataannya tidak semua orang dapat bersikap asertif. Beberapa penyebabnya
antara lain:
-
Kurang latihan;
-
Pendidikan awal dari orang tua;
-
Tidak ada standar yang jelas & tidak
yakin apa yang diinginkan;
-
Takut dengan respon marah;
-
Merasa tidak memiliki hak untuk bersikap
tegas dan meminta penjelasan.
Dengan
begitu yang harus dilakukan adalah mengurangi sikap agresif dengan cara
menyalurkan sikap tersebut secara positif misalnya: olahraga, ikut dalam
kelompok diskusi, dan masih banyak lagi aktivitas positif yang dapat digunakan
untuk menekan dorongan sikap agresif pada orang lain.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar