Kamis, 10 April 2014

Kepribadian Pengawas



KEPRIBADIAN PENGAWAS

1.      Citra Diri Pengawas
Gambaran diri kita mulai dibentuk sejak kita anak-anak, pada masa itu setiap orang membentuk identitasnya. Adanya identitas ini secara tidak sengaja telah menjadikan setiap orang berbeda dengan orang lain. Gambaran diri yang telah terbentuk, biasanya akan bertahan dan akan dipertahankan oleh yang bersangkutan serta tidak mudah akan berubah.
Mengingat perubahan itu tidak dapat serta merta terjadi dan sulit sekali, umumnya setiap individu berusaha untuk mempertahankan gambaran diri yang telah ada. Jika hal positif memang tidak menjadi persoalan, namun jika hal itu menjurus pada hal yang negatif maka gambaran diri itu akan membawa pada keburukan. Dengan begitu pengalaman keseharian yang diperoleh oleh seseorang akan sangat berharga dalam memperbaiki citra diri seseorang.
Seorang pengawas haruslah mengubah gambaran negatif tentang dirinya, dan berupaya menambahkan gambaran positif. Hal ini penting dilakukannya mengingat sebagai pengawas dirinya memiliki keharusan menampilkan pengetahuan dan sikap positif pada para guru. Cermin negatif dari pengawas akan berdampak negatif pada diri guru.

2.       Kesadaran Diri
Mencintai diri sendiri, tidak berarti harus egois dengan hanya melakukan aktivitas yang hanya untuk menyenangkan dirinya sendiri. Membandingkan diri kita (member penilaian terhadap diri) dalam upaya kesadaran diri harus dilakukan. Hal ini penting untuk memantau perasaan dari waktu ke waktu. Kesadaran diri penting bagi pembentukan konsep diri yang positif. Terkait dengan konsep diri, ada tiga hal yang harus dipahami, yaitu:
a.       Pengetahuan tentang diri kita;
b.      Harapan terhadap diri kita;
c.       Penilaian diri.
Pengetahuan diri lebih merujuk pada berbagai informasi tentang diri kita (self basel) baik yang berasal dari orang lain, ataupun pengetahuan yang berwujud kualitas diri (quality labels) yang berasal dari kemampuan yang dimiliki. Harapan merupakan sesuatu yang diinginkan, yang hendak diwujudkan secara empiris dan karena sifatnya abstrak harapan menjadi kekuatan untuk mendorong dan mengarahkan aktivitas seseorang. Harapan antara individu satu dengan individu lainnya relatif berbeda, meski yang bersangkutan terlahir kembar.
Penilaian merupakan aktivitas membandingkan diri kita (saat ini) dengan serangkaian standar (harapan untuk menjadi/could be dan seharusnya menjadi/should be). Jarak perbedaan antara kita saat ini dengan harapan kita untuk menjadi apa, apalagi dengan yang seharusnya menjadi apa, menjadi parameter harga diri yang bersangkutan. Semakin terpenuhinya harapan menjadi, ataupun seharusnya menjadi, menandakan semakin tinggi self esteem (harga diri) yang bersangkutan dan begitu sebaliknya.
Kesadaran diri yang baik akan membentuk konsep diri yang positif, dan konsep diri ini memiliki peranan penting dalam memperbaiki kepribadian dan gaya perilaku seseorang. Konsep diri posiitif dicirikan dengan indikator:
a.       Mengetahui kelebihan dan kelemahan yang dimilikinya;
b.      Menerima dirinya apa adanya;
c.       Memiliki kesadaran dan keinginan untuk mengurangi kelemahan-kelemahan yang dimilikinya berdasar informasi yang diterimanya.
Sebaliknya konsep diri negatif dicirikan dengan:
a.       Kurang memahami kelebihan ataupun kelemahan yang dimilikinya;
b.      Menolak umpan balik terhadap dirinya (terutama jika hal itu negatif);
c.       Konsep dirinya tidak dapat diubah (kaku).

3.      Perilaku Pasif, Agresif, dan Asertif
Agresivitas kerap dimaknai sebagai segala bentuk perilaku yang dimaksudkan untuk melukai orang, fisik maupun psikologis, (Brehm & Kassin, 1993, Sears, dkk., 1994; Baron &Bryne, 1997) serangan atau tindak permusuhan pada orang lain (Chaplin, 1995), Breakweel (1998), dan Brigham (1991) memberi catatan bahwa perilaku tersebut bertentangan dengan kemauan korban, namun jika hal itu memang dikehendaki, maka tidak lagi masuk dalam kategori agresi.
Beberapa faktor yang diidentifikasi mempengaruhi perilaku agresi adalah genetik, lingkungan, proses belajar individu, peristiwa spesifik dalam situasi tertentu, instigation, inhibiton, frustasi, provokasi, media, alkohol, jenis kelamin.
Bentuk-bentuk agresi tersebut dapat berupa:
a.       Perilaku agresif fisik aktif langsung;
b.      Perilaku agresif fisik aktif tak langsung;
c.       Perilaku agresif fisik pasif langsung;
d.      Perilaku agresif fisik pasif tak langsung;
e.       Perilaku agresif fisik verbal aktif langsung;
f.       Perilaku agresif fisik verbal aktif tak langsung;
g.      Perilaku agresif fisik verbal pasif langsung;
h.      Perilaku agresif fisik verbal pasif.

Berkebalikan dengan perilaku agresif adalah perilaku pasif. Baik agresif ataupun pasif jelas tidak pada tempatnya dikembangkan tanpa ada sebab, apalagi bagi seorang pengawas. Jalan tengah yang harus ditempuh oleh pengawas adalah bersikap asertif.
Seorang pengawas hendaklah menghindari untuk bersikap agresif atau pasif. Sebab keduuanya justru akan menjadikan bawahan tidak termotivasi untuk melakukan tugas-tugasnya dengan baik. Meski demikian, ada kalanya perilaku agresif dan pasif diperlukan dengan kondisi-kondisi tertentu.
Seorang pengawas harus menghindari perilaku agresi ini baik yang bersifat langsung ataupun tidak langsung, verbal apalagi yang bersifat fisik. Mengingat fungsinya sebagai Pembina bagi guru-guru di bawahnya, hendaknya harus diupayakan untuk bersikap lebih asertif.
Pada kenyataannya tidak semua orang dapat bersikap asertif. Beberapa penyebabnya antara lain:
-          Kurang latihan;
-          Pendidikan awal dari orang tua;
-          Tidak ada standar yang jelas & tidak yakin apa yang diinginkan;
-          Takut dengan respon marah;
-          Merasa tidak memiliki hak untuk bersikap tegas dan meminta penjelasan.

Dengan begitu yang harus dilakukan adalah mengurangi sikap agresif dengan cara menyalurkan sikap tersebut secara positif misalnya: olahraga, ikut dalam kelompok diskusi, dan masih banyak lagi aktivitas positif yang dapat digunakan untuk menekan dorongan sikap agresif pada orang lain.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar