Kamis, 10 April 2014

Teknik-teknik Pembelajaran



TEKNIK-TEKNIK DALAM BELAJAR-MENGAJAR

A.    Teknik-teknik dalam Belajar Mengajar
      Proses kegiatan belajar mengajar tidaklah berdiri sendiri, melainkan terkait dengan komponen materi dan waktu. Langkah pembelajaran memuat rangkaian kegiatan yang harus dilakukan oleh guru dan siswa secara berurutan sehingga cocok dengan pertumbuhan dan perkembangan siswa. Berbagai metode perlu dikembangkan secara rinci ke dalam teknik atau prosedur pembelajarannya.[1]
Terdapat sejumlah teknik pembelajaran partisipatif yang dapat dijelaskan sebagai berikut.
1.      Teknik-teknik Pembelajaran dalam Tahap Pembinaan Keakraban
a.      Teknik Diad
Teknik Diad dapat diartikan sebagai pertemuan antara dua orang yang berkomunikasi secara lisan dan tertulis dengan tujuan untuk lebih mengenali dan mengenalkan orang lain dalam suasana akrab dan gembira. Teknik Diad ini dilakukan apabila para peserta saling mengenal secara mendalam antara satu dan ditujukan untuk membangun keakraban.
Langkah teknik ini dapatdilakukandengan cara pendidik meminta peserta didik, agar mengatur tempat dalam bentuk U atau bentuk lainnya yang meminta peserta didik berpasangan dengan temannya disampingnya, dan selanjutnya melakukan tanya jawab.[2]

b.      Teknik Pembentukan Kelompok Kecil
Adapun teknik pembentukan kelompok kecil  berguna untuk membina  keakraban dan keterbukaan. Teknik ini dilakukan untuk pembentukan kelompok kecil yang jumlah anggotanya terbatas.
Teknik ini dilakukan dengan cara membina dinamika kelompok yang anggta-anggotanya mempunyai hubungan yang erat dan akrab serta efektif agar dapat dilaksanakan kegiatan pembelajaran.

c.       Teknik Pembinaan Belajar Berkelompok
Penggunaan teknik pembinaan belajar kelompok ini adalah untuk mengetahui harapan peserta didik tentang aktivitas yang akan dapat mereka lakukan dalam kegiatan berkelompok. Harapan ini dilakukan secara tertulis dengan cara memeriksa informasi dan mengisi kotak yang disediakan dalam lembar isian. Tujuan penggunaan teknik ini ialah untuk membiasakan para peserta didik dalam kegiatan belajar berkelompok.[3]

2.      Teknik-teknik Mengetahui Kebutuhan, Sumber-sumber, dan Hambatan Pembelajaran
a.      Curah Pendapat
Curah pendapat adalah teknik pembelajaran yang dilakukan dalam kelompok yang peserta didiknya memiliki latar belakang pengetahuan dan pengalaman yang berbeda-beda. Kegiatan ini dilakukan untuk menghimpun gagasan dan pendapat dalam rangka menentukan dan memilih berbagai pernyataan sebagai jawaban terhadap pertanyaan yang berkaitan dengan kebutuhan belajar, sumber-sumber, hambatan, dan lain sebagainya. Tiap peserta didik, diberi kesempatan secara bergiliran untuk menyampaikan pernyataan tentang pendapat atau gagasannya. Untuk mencapai tujuan ini dapat dilakukan dengan cara antara lain: a) pendidik menyusun pertanyaan-pertanyaan tentang kebutuhan belajar, sumber-sumber dan/atau kemungkinan-kemungkinan hambatan pembelajaran; b) pendidik menyampaikan pertanyaan-pertanyaan yang telah disusun secara berurutan; c) pendidik menjelaskan aturan-aturan yang harus diperhatikan oleh para peserta didik, misalnya setiap orang menyampaikan satu pendapat, mengemukakan pendapat atau gagasan dengan cepat.
b.      Teknik Wawancara
Teknik wawancara digunakan untuk mengumpulkan informasi tentang kebutuhan belajar, sumber-sumber, hambatan, dan lain sebagainya yang disampaikan oleh peserta didik, pimpinan lembaga, atau masyarakat. Penggunaan teknik ini dilakukan melalui proses tanya jawab antara pendidik dengan peserta didik atau antar peserta didik. Untuk mencapai tujuan ini dapat dilakukan antara lain dengan cara: pendidik menyiapkan daftar pertanyaan yang memuat hal-hal yang berkenaan dengan pengetahuan atau keterampilan yang diinginkan oleh peserta didik, pelajaran yang ingin segera dipelajari, guru yang ia inginkan, dan lain sebagainya.[4]

3.      Teknik-teknik dalam Tahap Perumusan Tujuan
a.      Teknik Penentuan oleh Kelompok (Nominal Group Technique)
Nominal Group Technique (NGT) adalah teknik yang digunakan untuk menumbuhkan partisipasi yang efektif pada para peserta didik dalam merumuskan dan membuat prioritas tujuan. NGT berusaha mengoptimalkan kreativitas dan partisipasi aktif setiap peserta didik serta mengahsilkan berbagai saran yang berkualitas berdasarkan kriteria yang lebih rinci. Hasil NGT akan lebih baik daripada hasil diskusi kelompok atau curah pendapat. NGT membatasi pembicaraan tunggal atau pandangan hanya dari sebagian peserta didik yang dapat mendominasi pertemuan.


b.      Teknik Delphi
Teknik Delphi digunakan untuk menghimpun keputusan-keputusan tertulis yang diajukan oleh sejumlah calon peserta didik atau para pakar yang tempat tinggalnya tersebar dan mereka tidak dapat berkumpul atau tidak dapat bertemu muka dalam menentukan keputusan-keputusan itu. Keputusan tersebut menyangkut tujuan kegiatan belajar, perencanaan kegiatan, pemecahan masalah yang dihadapi bersama dan lain sebagainya. Teknik ini pada dasarnya merupakan proses kegiatan kelompok dengan menggunakan jawaban-jawaban tertulis dari para calon peserta didik atau para pakar terhadap rancangan keputusan seperti tentang tujuan, rencana atau masalah yang diajukan secara tertulis kepada mereka. Kegiatan ini bertujuan untuk melibatkan para calon peserta didik atau para pakar dalam membuat keputusan sehingga keputusan-keputusan itu lebih berbobot dan menjadi milik bersama.

c.       Diskusi Kelompok
Diskusi kelompok adalah pembicaraan melalui tatap muka, yang direncanakan di antara dua orang peserta didik atau lebih tentang pokok atau topik bahasan tertentu dan dipimpin oleh seorang pimpinan diskusi. Pembicaraan itu mengungkap pikiran, gagasan, dan pendapat tentang topik yang dibahas. Topik itu dapat berupa bahan yang berhubungan dengan tugas, rumusan atau konsep tentang sesuatu gagasan, atau pemecahan masalah.

4.      Teknik-teknik dalam Tahap Penyusunan Program Kegiatan Belajar
a.      Teknik Pemilihan Cepat (Q-Short Technique)
Teknik Q Short (Q-Short Technique) adalah teknik pemilihan dan penentuan prioritas dari beberapa alternatif kemungkinan program yang telah disusun dan program itu akan dilaksanakan. Teknik ini digunakan pula untuk memilih masalah-masalah yang dihadapi dan harus segera dipecahkan. Cara pemilihan dilakukan dengan cepat, sesuai dengan nama teknik tersebut.
b.      Teknik Perancangan Program
Teknik perancangan program menggambarkan pendekatan yang komprehensif tentang kegiatan bersama untuk mengidentifikasi masalah. Kegiatan mengidentifikasi itu terdiri atas mengenal, menjelaskan, dan merumuskan masalah. Yaitu jarak keadaan sesuatu pada saat ini dengan keadaan sesuatu yang diinginkan di masa yang akan datang. Setelah masalah itu diidentifikasi, perlu disusun alternatif program pemecahan dan prioritasnya dengan memperhitungkan kebutuhan, sumber, dan kemungkinan hambatan yang akan ditemui.

5.      Teknik-teknik dalam Pelaksanaan Program Pembelajaran
Teknik-teknik dalam pelaksanaan program dalam mengambil bentuk simulasi, diskusi, cerita pemula, pemecahan masalah, bermain peran, permainan, penggunaan alat bantu, ceramah bervariasi, kunjungan lapangan, dan lain sebagainya sebagaimana telah disebutkan di atas. Seluruh teknik pada pelaksanaan program ini harus memperlihatkan keterlibatan peserta didik dalam kegiatan belajar mengajar. Hal ini penting dilakukan, karena merupakan inti dari metode dan teknik pembelajaran partisipatif.

6.      Teknik-teknik dalam Penilaian Proses, Hasil dan Pengaruh Kegiatan Belajar
Teknik dalam penilaian proses, hasil, dan pengaruh kegiatan belajar dapat menggunakan teknik respons terinci, teknik cawan ikan, dan teknik pengajuan pendapat tertulis.
Teknik respons terinci pada umumnya digunakan untuk mengevaluasi program, komponen, proses, dan lain sebagainya. Penggunaan teknik ini menuntut partisipasi yang sungguh-sungguh dari para peserta didik. Pendidikan dalam menggunakan teknik ini, pendidik membuat dua buah kolom dan lajur pada kertas lebar atau papan tulis. Satu kolom sebelah kiri memuat pertanyaan: Apakah hal-hal yang telah dianggap baik dari suatu program, proses, atau kegiatan itu. Kolom yang disebut terakhir ini merupakan arti lain, yaitu penghalusan ungkapan dari hal-hal yang tidak baik yang masih sering digunakan dalam penilaian di lembaga-lembaga.[5]

Adapaun teknik cawan ikan adalah kegiatan pembelajaran dalam bentuk diskusi yang diamati. Kegiatan pembelajaran dilakukan dalam kelompok yang jumlah pesertanya tidak terlalu besar. Peserta didik dibagi menjadi 2 kelompok yang terdiri atas kelompok lingkungan dalam dan kelompok lingkungan luar. Jika kelompok ini terdiri 15 orang, maka 5 orang membuat lingakaran dalam dan 10 orang membuat lingkaran luar yang mengelilingi lingakaran dalam itu. Pada lingkaran dalam, para peserta didik mendiskusikan suatu masalah, program, dan seterusnya. Pada lingkaran luar, para peserta didik menyaksikan dan mendengarkan diskusi yang dilakukan oleh anggota-anggota kelompok lingkaran dalam. Apabila terdapat peserta dari lingkaran luar yang ingin bicara dalam diskusi di lingkaran dalam, maka yang bersangkutan harus bertukar tempat dengan peserta didik yang berada dalam lingkaran dalam. Teknik ini dapat menumbuhkan kegiatan pembelajaran yang aktif, gembira dan mengharuskan semua peserta terlibat baik dalam diskusi dan mendengarkan, maupun dalam menyaksikan diskusi.
Sedangkan teknik pengajuan pendapat tertulis adalah kegiatan evaluasi yang dilakukan dengan menandai pertanyaan-pertanyaan yang telah disediakan pada lembaran khusus. Evaluasi ini dapat dilakukan untuk menghimpun pendapat peserta didik antara lain terhadap proses kegiatan pembelajaran, bahan belajar, penampilan pendidik, dan pengaruh kegiatan belajar yang dirasakan oleh peserta didik tentang perubahan pengetahuan, sikap, keterampilan dan nilai-nilai yang dirasakan setelah mengikuti kegiatan pembelajaran dibandingkan dengan keadaan pengetahuan, sikap, keterampilan dan nilai-nilai yang dimiliki peserta didik.   


Berikut ini dijabarkan prosedur penggunaan teknik-teknik pembelajaran yang berorientasi pada nilai sebagaimana diuraikan Muahimin (2004: 176-179) sebagai berikut.
1.      Teknik Indoktrinasi
Prosedurteknik ini dilakukan melalui beberapa tahap, yaitu:
a.      Tahap Brainwashing,
yakni pendidik memulai pendidikan nilai dengan jalan merusak tata nilai yang sudah mapan dalam pribadi siswa untuk dikacaukan, sehingga mereka menjadi tidak mempunyai pendirian lagi.
b.       Tahap Menanamkan Fanatisme
yakni pendidik berkewajiban menanamkan ide-ide baru yang dianggap benar sehingga nilai-nilai yang ditanamkannya masuk kepada anak tanpa melalui pertimbangan rasional yang mapan. Dalam menanamkan fanatisme ini lebih banyak digunakan pendekatan emosional daripada pendekatan rasional. Apabila siswa telah mau menerima nilai-nilai itu secara emosional, barulah ditanamkan doktrin yang sesungguhnya.
c.        Tahap Penanaman Doktrin
pada tahap ini pendidik dapat menggunakan pendekatan emosional; keteladanan. Pada saat penanaman doktrin ini hanya dikenal adanya satu nilai kebenaran yang disajikan, dan tidak ada alternatif lain. Semua siswa harus menerima kebenaran itu tanpa harus mempertanyakan hakikat kebenaran itu.[6]

2.      Teknik Moral Reasoning
Langkah-langkah teknik ini dilakukan dengan jalan: (1) penyajian dilema moral, pada tahap ini siswa dihadapkan dengan problematic nilai yang bersifat kontradiktif, dari yang bersifat sederhana sampai kepada yang kompleks. Cara penyajiannya dapat melalui observasi, membaca koran/majalah, mendengarkan sandiwara, melihat film dan sebagainya, (2) pembagian kelompok diskusi setelah disajikan problematik dilema moral tersebut, kemudian siswa dibagi ke dalam beberapa kelompok kecil untuk mendiskusikan hasil pengamatan terhadap dilema moral tersebut; (3) hasil diskusi kelompok selanjutnya dibawa dalam diskusi kelas dengan tujuan untuk mengadakan klarifikasi nilai, membuat alternatif dan konsekuensinya; (4) setelah siswa mendiskusikan secara intensif dan melakukan seleksi nilai yang terpilih sesuai dengan alternatif yang diajukan, selanjutnya siswa mengorganisasi nilai-nilai terpilih tersebut dalam dirinya.

3.      Teknik Meramalkan Konsekuensi
Teknik ini sebenarnya merupakan penerapan dari pendekatan rasional dalam mengajarkan nilai. Dalam arti mengandalkan kemampuan berpikir ke depan bagi siswa untuk membuat proyeksi tentang hal-hal yang akan terjadi dari penerapan suatu nilai tertentu. Adapun langkah-langkahnya sebagai berikut:
Tahap pertama, siswa diberikan suatu kasus melalui cerita, membaca majalah, melihat film, atau melihat kejadian konkret di lapangan;
Tahap kedua, siswa diberi beberapa pertanyaan yang berhubungan dengan nilai-nilai yang ia lihat, ketahui dan ia rasakan.
Tahap ketiga, upaya membandingkan nilai-nilai yang terdapat dalam kasus itu dengan nilai lain yang bersifat kontradiktif,
Tahap keempat, adalah kemampuan meramalkan konsekuensi yang akan terjadi dari pemilihan dan penerapan suatu tata nilai tertentu.[7]

4.      Teknik Klarifikasi
Teknik ini merupakan salah satu cara untuk membantu anak dalam menentukan nilai-nilai yang akan dipilihnya. Dalam teknik ini dapat ditempuh lewat tiga tahap, yaitu (1) tahap pemberian contoh: pada tahap ini guru memperkenalkan kepada siswa mengenai nilai-nilai yang baik dan memberikan contoh penerapannya. Hal ini bisa ditempuh dengan jalan observasi, melibatkan siswa dalam kegiatan nyata, pemberian contoh secara langsung dari guru kepada siswa, dan sebagainya; (2) tahap mengenal kelebihan dan kekurangan nilai yang telah diketahui oleh siswa lewat  contoh-contoh tersebut di atas. Hal ini bisa ditempuh melalui diskusi atau tanya jawab, guna melihat kelebihan dan kekurangan nilai tersebut. Dari kegiatan ini akhirnya siswa dapat memilih nilai-nilai yang ia setujui dan yang dianggap paling baik dan benar; (3) tahap mengorganisasikan tata nilai pada diri siswa. Setelah pemilihan nilai ditentukan maka siswa dapat mengorganisasikan sistem nilai tersebut dalam dirinya dan menjadikan nilai itu sebagai dari pribadinya.

5.      Teknik Internalisasi
Kalau teknik-teknik di atas hanya terbatas pada pemilihan nilai dengan disertai wawasan yang cukup luas dan mendalam maka dalam teknik internalisasi ini sasarannya sampai kepada tahap pemilikan nilai yang menyatu dalam kepribadian siswa, atau sampai pada taraf karakterisasi atau me-watak. Tahap-tahap dari teknik internalisasi ini adalah (1) tahap transformasi nilai: pada tahap ini guru sekadar menginformasikan nilai-nilai yang baik dan yang kurang baik kepada siswa, yang semata-mata merupakan komunikasi verbal; (2) tahap transaksi nilai, yakni suatu tahap pendidikan nilai dengan jalan melakukan komunikasi dua arah, atau interaksi antara siswa dan guru bersifat interaksi timbal-balik. Kalau pada tahap transformasi, komunikasi masih dalam bentuk satu arah, yakni guru yang aktif. Tetapi dalam transaksi ini guru dan siswa sama-sama memiliki sifat yang aktif; (3) tahap transinternalisasi: tahap ini jauh lebih dalam dari sekedar transaksi. Dalam tahap ini penampilan guru di hadapan siswa bukan lagi sosok fisiknya, melainkan sikap mentalnya (kepribadiannya). Demikian juga siswa merespons kepada guru bukan hanya gerakan/penampilan fisiknya, melainkan sikap mental dan kepribadiannya. Oleh karena itu, dapat dikatakanbahwa dalam transinternalisasi ini adalah komunikasi dua kepribadian yang masing-masing terlibat secara aktif.[8]

·         Teknik Pembelajaran
            Pada bagian sebelumnya telah dijelaskan bahwa metode pembelajaran telah dijabarkan ke dalam teknik dan gaya (taktik) pembelajaran. Dengan demikian, teknik pembelajaran dapat diartikan dengan cara yang dilakukan seseorang dalam mengimplementasikan suatu metode secara spesifik. Dalam hal ini, guru pun dapat berganti-ganti teknik meskipun dalam koridor metode yang sama. Secara teoritik begitu banyak teknik pembelajaran, pada pembahasan ini penulis hanya mengelompokkan teknik pembelajaran pada dua bagian, yaitu teknik pembelajaran untuk mengaktifkan kelompok dan teknik pembelajaran untuk mengaktifkan individu. Secara ringkas kedua teknik tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut:
1.      Teknik Pembelajaran untuk Mengaktifkan Kelompok
Proses belajar akan lebih efektif jika guru mengkondisikan agar setiap peserta didik terlibat secara aktif dan terjadi hubungan yang dinamis dan slaing mendukung antara peserta didik satu dengan peserta didik yang lain. Berikut ini beberapa jenis teknik pembelajaran yang dapat digunakan guru untuk mengaktifkan peserta didik secara kolektif.
a.      Tim Pendengar (Listening Team)
Teknik ini dimaksudkan untuk mengaktifkan seluruh peserta didik dengan membagi peserta didik secara berkelompok dan memberikan tugas yang berbeda kepada masing-masing kelompok tersebut.


b.      Membuat Catatan Terbimbing (Guided Note Taking)
Dengan teknik ini guru memberikan satu borang yang dipersiapkan untuk mendorong peserta didik mencatat selagi guru mengajar.
c.       Pembelajaran Terbimbing
Dalam teknik ini guru menanyakan satu atau lebih pertanyaan untuk membuka pelajaran. Cara ini merupakan modifikasi dari metode ceramah secara langsung.
d.      Perdebatan Aktif (Active Debate)
Suatu perdebatan dapat menjadi sebuah metode dan teknik berharga untuk mengembangkan pemikiran dan refleksi, khususnya jika para peserta didik diharapkan mengambil posisi yang bertentangan dengan pendapatnya. Ini adalah sebuah teknik untuk suatu perdebatan yang secara aktif melibatkan setiap peserta didik dalam kelas bukan hanya orang-orang yang berdebat.
e.       Teknik Poin-Kounterpoin
Kegiatan ini merupakan sebuah teknik untuk merangsang diskusi dan mendapatkan pemahaman lebih mendalam tentang berbagai isu kompleks. Format tersebut mirip dengan sebuah perdebatan namun kurang formal dan berjalan dengan lebih cepat.
f.       Teknik Menggabungkan Dua Kekuatan (The Power of Two)
Teknik ini dilakukan untuk meningkatkan belajart kolaboratif dan mendorong munculnya keuntungan dari sinergi itu, sebab dua kepala (orang) tentu lebih baik dari pada satu.
 
g.      Pertanyaan Kelompok (Team Quiz)
Teknik tim ini dapat meningkatkan kemampuan tanggung jawab peserta didik tentang apa yang mereka pelajari melalui cara yang menyenangkan dan tidak menakutkan.
h.      Teknik Pembelajaran untuk Mengaktifkan Individu
1.      Teknik Membaca dengan Keras (Reading Aloud)
Membaca suatu teks dengan keras dapat membantu peserta didik memfokuskan perhatian secara mental, menimbulkan pertanyaan-pertanyaan, dan merangsang diskusi. Teknik tersebut mempunyai efek pada memusatkan perhatian dan membuat suatu kelompok yang kohesif.
2.      Setiap Orang adalah Guru (Everyone is a Teacher Here)
Ini merupakan sebuah teknik yang mudah guna memperoleh partisipasi kelas yang besar dan tanggung jawab individu. Teknik ini memberikan kesempatan pada setiap peserta didik untuk bertindak sebagai seorang “pengajar” terhadap peserta didik lain.
3.      Menulis Pengalaman secara Langsung (Writing in The Here and Now)
Menulis dapat membantu peserta didik merefleksikan pengalaman-pengalaman yang telah mereka alami. [9]

·         Teknik Pengajaran Kelompok Kecil
            Untuk kelompok kecil yang terdiri atas 10 orang siswa atau kurang, akan lebih mudah melakukan komunikasi dua arah secara efektif. Banyak teknik yang dapat dikembangkan dalam kegiatan belajar kelompok kecil. Akan tetapi, untuk maksud-maksud umum, di sini hanya dikemukakan beberapa saja, antara lain tutorial individual, tutorial kelompok, seminar, lokakarya (workshop), klinis, dan diskusi kelompok.
1.      Turotial Individual (TI)
Metode ini dianggap metode belajar yang ideal, karena satu orang tutor berhadapan denga satu orang siswa. Metode ini memiliki metode lainnya, terutama dalam hal pengembangan keterampilan dan pengetahuan konseptual. Hubungan satu orang dengan satu orang memungkinkan guru/tutor mendiangnosis kesulitan-kesulitan dan kelemahan-kelemahan siswa secara cermat dan teliti.
2.      Tutorial Kelompok (TK)
Pada dasarnya tutorial berdasarkan pada hubungan antara satu orang guru dan satu orang siswa. Namun dewasa ini sudah mulai umum dilaksanakan tutorial kelompok, di mana satu orang guru membimbing sekelompok siswa yang terdiri dari lima atau tujuh orang siswa sekaligus pada waktu yang sama.
3.      Seminar (S)
Seminar diawali dengan penguasaan kepada seseorang atau satu kelompok siswa untuk melakukan studi atau proyek atau penelitian. Kemudian para siswa bersangkutan melaporkan dan menyajikan penemuan atau pendapatnya kepada kelompok yang lebih besar. Kegiatan seminar biasanya diorganisasi oleh guru untuk memperoleh kesimpulan umum melalui serangkaian diskusi. Dalam teknik ini, kegiatan belajar mengajar kebanyakan didelegasikan kepada para siswa sendiri.
4.      Lokakarya (Workshop)
Umumnya lokakarya diawali dengan pemberian informasi langkah-langkah kerja, dan asas-asas pelaksanaannya tentang suatu topik kepada para siswa dengan menggunakan metode tertentu. kemudian para siswa menerapkan informasi yang telah diperolehnya itu ke dalam tugas-tugas yang nyata sesuai dengan pilihan sendiri. Kegiatan itu dilaksanakan dibawahi supervisi guru.
5.      Teknis Klinis (TK)
Teknik klinis digunakan dalam rangka pertemuan diagnostik atau pemecahan masalah. Pertemuan diagnostik dimaksudkan untuk memecahkan kesulitan-kesulitan yang dihadapi oleh siswa dalam pengajaran tertentu. masalah yang dipecahkan berkenaan dengan masalah-masalah masyarakat yang sedang dihadapi oleh masyarakat secara luas. Jadi, teknik klinis berkenaan dengan kehidupan senyatanya, yang betul-betul terjadi di dalam kondisi kehidupan. Kadang-kadang digunakan juga teknik simulasi sebagai teknik penunjang klinis.
6.      Diskusi Kelompok Terbuka (DKT)
Teknik diskusi kelompok terbuka dapat digunakan dalam kerangka teknik-teknik yang telah dibahas sebelumnya. Pemimpin kelompok merumuskan topik yang akan didiskusikan dan bertindak sebagai ketua diskusi kelompok. Dalam hal itu, kegiatan belajar terjadi dalam bentuk pertukaran pengalaman, pemikiran, dan informasi di kalangan para peserta diskusi.[10]









[1]Abdul Majid, S. Ag., M. Pd,  PerencanaanPembelajaranMengembangkanStandarKompetensi Guru, Bandung, PT RemajaRosdakarya, 2011, hal. 160.
[2]Abuddinnata, Perspektif Islam Tentang Strategi Pembelajaran,Jakarta: Kencana, 2011, hal. 265-266.
[3]Ibid, hal.265-269.
[4]Ibid, 269-270.
[5]Ibid, hal. 270-276.
[6]Ibid, hal. 161.
[7]Abdul Mujib, S. Ag., M. Pd, PerencanaanPembelajaranMengembangkanStandarKompetensi Guru, Bandung, PT RemajaRosdakarya, 2011, hal. 162-163.
[8]Ibid, hal. 163-164.
[9]Dr. Mulyono, M.A,StrategiPembelajaranMenujuEfektifitasPembelajaran di Abad Global, Malang: UIN-MalikiPress, 2011, hal. 113-122.
[10]Prof. Dr. OemarHamalik, PerencanaanPengajaranBerdasarkanPendekatansistem, Jakarta: PT BumiAksara, 2002, hal.188-190.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar