TEKNIK-TEKNIK DALAM BELAJAR-MENGAJAR
A. Teknik-teknik
dalam Belajar Mengajar
Proses kegiatan belajar mengajar tidaklah
berdiri sendiri, melainkan terkait dengan komponen materi dan waktu. Langkah
pembelajaran memuat rangkaian kegiatan yang harus dilakukan oleh guru dan siswa
secara berurutan sehingga cocok dengan pertumbuhan dan perkembangan siswa.
Berbagai metode perlu dikembangkan secara rinci ke dalam teknik atau prosedur
pembelajarannya.[1]
Terdapat
sejumlah teknik pembelajaran partisipatif yang dapat dijelaskan sebagai
berikut.
1. Teknik-teknik
Pembelajaran dalam Tahap Pembinaan Keakraban
a. Teknik
Diad
Teknik Diad
dapat diartikan sebagai pertemuan antara dua orang yang berkomunikasi secara
lisan dan tertulis dengan tujuan untuk lebih mengenali dan mengenalkan orang
lain dalam suasana akrab dan gembira. Teknik Diad ini dilakukan apabila para peserta saling mengenal
secara mendalam antara satu dan ditujukan untuk membangun keakraban.
Langkah
teknik ini dapatdilakukandengan cara pendidik meminta peserta didik, agar
mengatur tempat dalam bentuk U atau bentuk lainnya yang meminta peserta didik berpasangan
dengan temannya disampingnya, dan selanjutnya melakukan tanya jawab.[2]
b. Teknik
Pembentukan Kelompok Kecil
Adapun
teknik pembentukan kelompok kecil
berguna untuk membina keakraban
dan keterbukaan. Teknik ini dilakukan untuk pembentukan kelompok kecil yang
jumlah anggotanya terbatas.
Teknik ini dilakukan dengan cara membina dinamika kelompok
yang anggta-anggotanya mempunyai hubungan yang erat dan akrab serta efektif
agar dapat dilaksanakan kegiatan pembelajaran.
c. Teknik
Pembinaan Belajar Berkelompok
Penggunaan
teknik pembinaan belajar kelompok ini adalah untuk mengetahui harapan peserta
didik tentang aktivitas yang akan dapat mereka lakukan dalam kegiatan
berkelompok. Harapan ini dilakukan secara tertulis dengan cara memeriksa
informasi dan mengisi kotak yang disediakan dalam lembar isian. Tujuan
penggunaan teknik ini ialah untuk membiasakan para peserta didik dalam kegiatan
belajar berkelompok.[3]
2. Teknik-teknik
Mengetahui Kebutuhan, Sumber-sumber, dan Hambatan Pembelajaran
a. Curah
Pendapat
Curah
pendapat adalah teknik pembelajaran yang dilakukan dalam kelompok yang peserta
didiknya memiliki latar belakang pengetahuan dan pengalaman yang berbeda-beda.
Kegiatan ini dilakukan untuk menghimpun gagasan dan pendapat dalam rangka
menentukan dan memilih berbagai pernyataan sebagai jawaban terhadap pertanyaan
yang berkaitan dengan kebutuhan belajar, sumber-sumber, hambatan, dan lain
sebagainya. Tiap peserta didik, diberi kesempatan secara bergiliran untuk
menyampaikan pernyataan tentang pendapat atau gagasannya. Untuk mencapai tujuan
ini dapat dilakukan dengan cara antara lain: a) pendidik menyusun
pertanyaan-pertanyaan tentang kebutuhan belajar, sumber-sumber dan/atau
kemungkinan-kemungkinan hambatan pembelajaran; b) pendidik menyampaikan
pertanyaan-pertanyaan yang telah disusun secara berurutan; c) pendidik
menjelaskan aturan-aturan yang harus diperhatikan oleh para peserta didik,
misalnya setiap orang menyampaikan satu pendapat, mengemukakan pendapat atau
gagasan dengan cepat.
b. Teknik
Wawancara
Teknik wawancara
digunakan untuk mengumpulkan informasi tentang kebutuhan belajar,
sumber-sumber, hambatan, dan lain sebagainya yang disampaikan oleh peserta
didik, pimpinan lembaga, atau masyarakat. Penggunaan teknik ini dilakukan
melalui proses tanya jawab antara pendidik dengan peserta didik atau antar
peserta didik. Untuk mencapai tujuan ini dapat dilakukan antara lain dengan
cara: pendidik menyiapkan daftar pertanyaan yang memuat hal-hal yang berkenaan
dengan pengetahuan atau keterampilan yang diinginkan oleh peserta didik,
pelajaran yang ingin segera dipelajari, guru yang ia inginkan, dan lain
sebagainya.[4]
3. Teknik-teknik
dalam Tahap Perumusan Tujuan
a. Teknik
Penentuan oleh Kelompok (Nominal Group
Technique)
Nominal
Group Technique (NGT) adalah teknik yang digunakan untuk menumbuhkan
partisipasi yang efektif pada para peserta didik dalam merumuskan dan membuat
prioritas tujuan. NGT berusaha mengoptimalkan kreativitas dan partisipasi aktif
setiap peserta didik serta mengahsilkan berbagai saran yang berkualitas
berdasarkan kriteria yang lebih rinci. Hasil NGT akan lebih baik daripada hasil
diskusi kelompok atau curah pendapat. NGT membatasi pembicaraan tunggal atau
pandangan hanya dari sebagian peserta didik yang dapat mendominasi pertemuan.
b. Teknik
Delphi
Teknik
Delphi digunakan untuk menghimpun keputusan-keputusan tertulis yang diajukan
oleh sejumlah calon peserta didik atau para pakar yang tempat tinggalnya
tersebar dan mereka tidak dapat berkumpul atau tidak dapat bertemu muka dalam
menentukan keputusan-keputusan itu. Keputusan tersebut menyangkut tujuan
kegiatan belajar, perencanaan kegiatan, pemecahan masalah yang dihadapi bersama
dan lain sebagainya. Teknik ini pada dasarnya merupakan proses kegiatan
kelompok dengan menggunakan jawaban-jawaban tertulis dari para calon peserta
didik atau para pakar terhadap rancangan keputusan seperti tentang tujuan,
rencana atau masalah yang diajukan secara tertulis kepada mereka. Kegiatan ini
bertujuan untuk melibatkan para calon peserta didik atau para pakar dalam
membuat keputusan sehingga keputusan-keputusan itu lebih berbobot dan menjadi
milik bersama.
c.
Diskusi
Kelompok
Diskusi
kelompok adalah pembicaraan melalui tatap muka, yang direncanakan di antara dua
orang peserta didik atau lebih tentang pokok atau topik bahasan tertentu dan
dipimpin oleh seorang pimpinan diskusi. Pembicaraan itu mengungkap pikiran,
gagasan, dan pendapat tentang topik yang dibahas. Topik itu dapat berupa bahan
yang berhubungan dengan tugas, rumusan atau konsep tentang sesuatu gagasan,
atau pemecahan masalah.
4.
Teknik-teknik
dalam Tahap Penyusunan Program Kegiatan Belajar
a.
Teknik
Pemilihan Cepat (Q-Short Technique)
Teknik
Q Short (Q-Short Technique) adalah
teknik pemilihan dan penentuan prioritas dari beberapa alternatif kemungkinan
program yang telah disusun dan program itu akan dilaksanakan. Teknik ini
digunakan pula untuk memilih masalah-masalah yang dihadapi dan harus segera
dipecahkan. Cara pemilihan dilakukan dengan cepat, sesuai dengan nama teknik
tersebut.
b.
Teknik
Perancangan Program
Teknik
perancangan program menggambarkan pendekatan yang komprehensif tentang kegiatan
bersama untuk mengidentifikasi masalah. Kegiatan mengidentifikasi itu terdiri
atas mengenal, menjelaskan, dan merumuskan masalah. Yaitu jarak keadaan sesuatu
pada saat ini dengan keadaan sesuatu yang diinginkan di masa yang akan datang.
Setelah masalah itu diidentifikasi, perlu disusun alternatif program pemecahan
dan prioritasnya dengan memperhitungkan kebutuhan, sumber, dan kemungkinan hambatan
yang akan ditemui.
5.
Teknik-teknik
dalam Pelaksanaan Program Pembelajaran
Teknik-teknik
dalam pelaksanaan program dalam mengambil bentuk simulasi, diskusi, cerita
pemula, pemecahan masalah, bermain peran, permainan, penggunaan alat bantu,
ceramah bervariasi, kunjungan lapangan, dan lain sebagainya sebagaimana telah
disebutkan di atas. Seluruh teknik pada pelaksanaan program ini harus
memperlihatkan keterlibatan peserta didik dalam kegiatan belajar mengajar. Hal
ini penting dilakukan, karena merupakan inti dari metode dan teknik
pembelajaran partisipatif.
6.
Teknik-teknik
dalam Penilaian Proses, Hasil dan Pengaruh Kegiatan Belajar
Teknik
dalam penilaian proses, hasil, dan pengaruh kegiatan belajar dapat menggunakan
teknik respons terinci, teknik cawan ikan, dan teknik pengajuan pendapat
tertulis.
Teknik
respons terinci pada umumnya digunakan untuk mengevaluasi program, komponen,
proses, dan lain sebagainya. Penggunaan teknik ini menuntut partisipasi yang
sungguh-sungguh dari para peserta didik. Pendidikan dalam menggunakan teknik
ini, pendidik membuat dua buah kolom dan lajur pada kertas lebar atau papan
tulis. Satu kolom sebelah kiri memuat pertanyaan: Apakah hal-hal yang telah
dianggap baik dari suatu program, proses, atau kegiatan itu. Kolom yang disebut
terakhir ini merupakan arti lain, yaitu penghalusan ungkapan dari hal-hal yang
tidak baik yang masih sering digunakan dalam penilaian di lembaga-lembaga.[5]
Adapaun teknik
cawan ikan adalah kegiatan pembelajaran dalam bentuk diskusi yang diamati.
Kegiatan pembelajaran dilakukan dalam kelompok yang jumlah pesertanya tidak
terlalu besar. Peserta didik dibagi menjadi 2 kelompok yang terdiri atas
kelompok lingkungan dalam dan kelompok lingkungan luar. Jika kelompok ini
terdiri 15 orang, maka 5 orang membuat lingakaran dalam dan 10 orang membuat
lingkaran luar yang mengelilingi lingakaran dalam itu. Pada lingkaran dalam,
para peserta didik mendiskusikan suatu masalah, program, dan seterusnya. Pada
lingkaran luar, para peserta didik menyaksikan dan mendengarkan diskusi yang
dilakukan oleh anggota-anggota kelompok lingkaran dalam. Apabila terdapat
peserta dari lingkaran luar yang ingin bicara dalam diskusi di lingkaran dalam,
maka yang bersangkutan harus bertukar tempat dengan peserta didik yang berada
dalam lingkaran dalam. Teknik ini dapat menumbuhkan kegiatan pembelajaran yang
aktif, gembira dan mengharuskan semua peserta terlibat baik dalam diskusi dan
mendengarkan, maupun dalam menyaksikan diskusi.
Sedangkan
teknik pengajuan pendapat tertulis adalah kegiatan evaluasi yang dilakukan
dengan menandai pertanyaan-pertanyaan yang telah disediakan pada lembaran
khusus. Evaluasi ini dapat dilakukan untuk menghimpun pendapat peserta didik
antara lain terhadap proses kegiatan pembelajaran, bahan belajar, penampilan
pendidik, dan pengaruh kegiatan belajar yang dirasakan oleh peserta didik
tentang perubahan pengetahuan, sikap, keterampilan dan nilai-nilai yang
dirasakan setelah mengikuti kegiatan pembelajaran dibandingkan dengan keadaan
pengetahuan, sikap, keterampilan dan nilai-nilai yang dimiliki peserta didik.
Berikut
ini dijabarkan prosedur penggunaan teknik-teknik pembelajaran yang berorientasi
pada nilai sebagaimana diuraikan Muahimin (2004: 176-179) sebagai berikut.
1. Teknik Indoktrinasi
Prosedurteknik
ini dilakukan melalui beberapa tahap, yaitu:
a. Tahap Brainwashing,
yakni pendidik
memulai pendidikan nilai dengan jalan merusak tata nilai yang sudah mapan dalam
pribadi siswa untuk dikacaukan, sehingga mereka menjadi tidak mempunyai
pendirian lagi.
b. Tahap Menanamkan Fanatisme
yakni pendidik
berkewajiban menanamkan ide-ide baru yang dianggap benar sehingga nilai-nilai
yang ditanamkannya masuk kepada anak tanpa melalui pertimbangan rasional yang
mapan. Dalam menanamkan fanatisme ini lebih banyak digunakan pendekatan
emosional daripada pendekatan rasional. Apabila siswa telah mau menerima
nilai-nilai itu secara emosional, barulah ditanamkan doktrin yang sesungguhnya.
c. Tahap Penanaman Doktrin
pada tahap ini
pendidik dapat menggunakan pendekatan emosional; keteladanan. Pada saat
penanaman doktrin ini hanya dikenal adanya satu nilai kebenaran yang disajikan,
dan tidak ada alternatif lain. Semua siswa harus menerima kebenaran itu tanpa
harus mempertanyakan hakikat kebenaran itu.[6]
2. Teknik Moral Reasoning
Langkah-langkah
teknik ini dilakukan dengan jalan: (1) penyajian dilema moral, pada tahap ini
siswa dihadapkan dengan problematic nilai yang bersifat kontradiktif, dari yang
bersifat sederhana sampai kepada yang kompleks. Cara penyajiannya dapat melalui
observasi, membaca koran/majalah, mendengarkan sandiwara, melihat film dan
sebagainya, (2) pembagian kelompok diskusi setelah disajikan problematik dilema
moral tersebut, kemudian siswa dibagi ke dalam beberapa kelompok kecil untuk
mendiskusikan hasil pengamatan terhadap dilema moral tersebut; (3) hasil
diskusi kelompok selanjutnya dibawa dalam diskusi kelas dengan tujuan untuk
mengadakan klarifikasi nilai, membuat alternatif dan konsekuensinya; (4)
setelah siswa mendiskusikan secara intensif dan melakukan seleksi nilai yang
terpilih sesuai dengan alternatif yang diajukan, selanjutnya siswa
mengorganisasi nilai-nilai terpilih tersebut dalam dirinya.
3. Teknik Meramalkan
Konsekuensi
Teknik
ini sebenarnya merupakan penerapan dari pendekatan rasional dalam mengajarkan
nilai. Dalam arti mengandalkan kemampuan berpikir ke depan bagi siswa untuk
membuat proyeksi tentang hal-hal yang akan terjadi dari penerapan suatu nilai
tertentu. Adapun langkah-langkahnya sebagai berikut:
Tahap pertama,
siswa diberikan suatu kasus melalui cerita, membaca majalah, melihat film, atau
melihat kejadian konkret di lapangan;
Tahap
kedua, siswa diberi beberapa pertanyaan yang
berhubungan dengan nilai-nilai yang ia lihat, ketahui dan ia rasakan.
Tahap
ketiga, upaya membandingkan nilai-nilai yang
terdapat dalam kasus itu dengan nilai lain yang bersifat kontradiktif,
Tahap
keempat, adalah kemampuan meramalkan
konsekuensi yang akan terjadi dari pemilihan dan penerapan suatu tata nilai
tertentu.[7]
4. Teknik Klarifikasi
Teknik
ini merupakan salah satu cara untuk membantu anak dalam menentukan nilai-nilai
yang akan dipilihnya. Dalam teknik ini dapat ditempuh lewat tiga tahap, yaitu
(1) tahap pemberian contoh: pada tahap ini guru memperkenalkan kepada siswa
mengenai nilai-nilai yang baik dan memberikan contoh penerapannya. Hal ini bisa
ditempuh dengan jalan observasi, melibatkan siswa dalam kegiatan nyata,
pemberian contoh secara langsung dari guru kepada siswa, dan sebagainya; (2)
tahap mengenal kelebihan dan kekurangan nilai yang telah diketahui oleh siswa
lewat contoh-contoh tersebut di atas.
Hal ini bisa ditempuh melalui diskusi atau tanya jawab, guna melihat kelebihan
dan kekurangan nilai tersebut. Dari kegiatan ini akhirnya siswa dapat memilih
nilai-nilai yang ia setujui dan yang dianggap paling baik dan benar; (3) tahap
mengorganisasikan tata nilai pada diri siswa. Setelah pemilihan nilai
ditentukan maka siswa dapat mengorganisasikan sistem nilai tersebut dalam
dirinya dan menjadikan nilai itu sebagai dari pribadinya.
5. Teknik Internalisasi
Kalau
teknik-teknik di atas hanya terbatas pada pemilihan nilai dengan disertai
wawasan yang cukup luas dan mendalam maka dalam teknik internalisasi ini
sasarannya sampai kepada tahap pemilikan nilai yang menyatu dalam kepribadian
siswa, atau sampai pada taraf karakterisasi atau me-watak. Tahap-tahap dari
teknik internalisasi ini adalah (1) tahap transformasi nilai: pada tahap ini
guru sekadar menginformasikan nilai-nilai yang baik dan yang kurang baik kepada
siswa, yang semata-mata merupakan komunikasi verbal; (2) tahap transaksi nilai,
yakni suatu tahap pendidikan nilai dengan jalan melakukan komunikasi dua arah,
atau interaksi antara siswa dan guru bersifat interaksi timbal-balik. Kalau
pada tahap transformasi, komunikasi masih dalam bentuk satu arah, yakni guru
yang aktif. Tetapi dalam transaksi ini guru dan siswa sama-sama memiliki sifat
yang aktif; (3) tahap transinternalisasi: tahap ini jauh lebih dalam dari
sekedar transaksi. Dalam tahap ini penampilan guru di hadapan siswa bukan lagi
sosok fisiknya, melainkan sikap mentalnya (kepribadiannya). Demikian juga siswa
merespons kepada guru bukan hanya gerakan/penampilan fisiknya, melainkan sikap
mental dan kepribadiannya. Oleh karena itu, dapat dikatakanbahwa dalam
transinternalisasi ini adalah komunikasi dua kepribadian yang masing-masing
terlibat secara aktif.[8]
·
Teknik
Pembelajaran
Pada bagian sebelumnya telah
dijelaskan bahwa metode pembelajaran telah dijabarkan ke dalam teknik dan gaya
(taktik) pembelajaran. Dengan demikian, teknik pembelajaran dapat diartikan
dengan cara yang dilakukan seseorang dalam mengimplementasikan suatu metode
secara spesifik. Dalam hal ini, guru pun dapat berganti-ganti teknik meskipun
dalam koridor metode yang sama. Secara teoritik begitu banyak teknik
pembelajaran, pada pembahasan ini penulis hanya mengelompokkan teknik
pembelajaran pada dua bagian, yaitu teknik pembelajaran untuk mengaktifkan
kelompok dan teknik pembelajaran untuk mengaktifkan individu. Secara ringkas
kedua teknik tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut:
1.
Teknik
Pembelajaran untuk Mengaktifkan Kelompok
Proses
belajar akan lebih efektif jika guru mengkondisikan agar setiap peserta didik
terlibat secara aktif dan terjadi hubungan yang dinamis dan slaing mendukung
antara peserta didik satu dengan peserta didik yang lain. Berikut ini beberapa
jenis teknik pembelajaran yang dapat digunakan guru untuk mengaktifkan peserta
didik secara kolektif.
a.
Tim
Pendengar (Listening Team)
Teknik
ini dimaksudkan untuk mengaktifkan seluruh peserta didik dengan membagi peserta
didik secara berkelompok dan memberikan tugas yang berbeda kepada masing-masing
kelompok tersebut.
b.
Membuat
Catatan Terbimbing (Guided Note Taking)
Dengan
teknik ini guru memberikan satu borang yang dipersiapkan untuk mendorong
peserta didik mencatat selagi guru mengajar.
c.
Pembelajaran
Terbimbing
Dalam
teknik ini guru menanyakan satu atau lebih pertanyaan untuk membuka pelajaran.
Cara ini merupakan modifikasi dari metode ceramah secara langsung.
d.
Perdebatan
Aktif (Active Debate)
Suatu perdebatan dapat menjadi
sebuah metode dan teknik berharga untuk mengembangkan pemikiran dan refleksi,
khususnya jika para peserta didik diharapkan mengambil posisi yang bertentangan
dengan pendapatnya. Ini adalah sebuah teknik untuk suatu perdebatan yang secara
aktif melibatkan setiap peserta didik dalam kelas bukan hanya orang-orang yang
berdebat.
e.
Teknik
Poin-Kounterpoin
Kegiatan ini merupakan sebuah
teknik untuk merangsang diskusi dan mendapatkan pemahaman lebih mendalam
tentang berbagai isu kompleks. Format tersebut mirip dengan sebuah perdebatan
namun kurang formal dan berjalan dengan lebih cepat.
f.
Teknik
Menggabungkan Dua Kekuatan (The Power of Two)
Teknik ini dilakukan untuk
meningkatkan belajart kolaboratif dan mendorong munculnya keuntungan dari
sinergi itu, sebab dua kepala (orang) tentu lebih baik dari pada satu.
g.
Pertanyaan
Kelompok (Team Quiz)
Teknik tim ini dapat meningkatkan
kemampuan tanggung jawab peserta didik tentang apa yang mereka pelajari melalui
cara yang menyenangkan dan tidak menakutkan.
h.
Teknik
Pembelajaran untuk Mengaktifkan Individu
1.
Teknik
Membaca dengan Keras (Reading Aloud)
Membaca suatu teks dengan keras
dapat membantu peserta didik memfokuskan perhatian secara mental, menimbulkan
pertanyaan-pertanyaan, dan merangsang diskusi. Teknik tersebut mempunyai efek
pada memusatkan perhatian dan membuat suatu kelompok yang kohesif.
2.
Setiap
Orang adalah Guru (Everyone is a Teacher Here)
Ini merupakan sebuah teknik yang
mudah guna memperoleh partisipasi kelas yang besar dan tanggung jawab individu.
Teknik ini memberikan kesempatan pada setiap peserta didik untuk bertindak
sebagai seorang “pengajar” terhadap peserta didik lain.
3.
Menulis
Pengalaman secara Langsung (Writing in The Here and Now)
Menulis dapat membantu peserta
didik merefleksikan pengalaman-pengalaman yang telah mereka alami. [9]
·
Teknik Pengajaran
Kelompok Kecil
Untuk kelompok kecil yang terdiri
atas 10 orang siswa atau kurang, akan lebih mudah melakukan komunikasi dua arah
secara efektif. Banyak teknik yang dapat dikembangkan dalam kegiatan belajar
kelompok kecil. Akan tetapi, untuk maksud-maksud umum, di sini hanya
dikemukakan beberapa saja, antara lain tutorial individual, tutorial kelompok,
seminar, lokakarya (workshop), klinis, dan diskusi kelompok.
1.
Turotial
Individual (TI)
Metode ini dianggap metode belajar
yang ideal, karena satu orang tutor berhadapan denga satu orang siswa. Metode
ini memiliki metode lainnya, terutama dalam hal pengembangan keterampilan dan
pengetahuan konseptual. Hubungan satu orang dengan satu orang memungkinkan
guru/tutor mendiangnosis kesulitan-kesulitan dan kelemahan-kelemahan siswa secara
cermat dan teliti.
2.
Tutorial
Kelompok (TK)
Pada dasarnya tutorial berdasarkan
pada hubungan antara satu orang guru dan satu orang siswa. Namun dewasa ini
sudah mulai umum dilaksanakan tutorial kelompok, di mana satu orang guru
membimbing sekelompok siswa yang terdiri dari lima atau tujuh orang siswa
sekaligus pada waktu yang sama.
3.
Seminar
(S)
Seminar diawali dengan penguasaan
kepada seseorang atau satu kelompok siswa untuk melakukan studi atau proyek
atau penelitian. Kemudian para siswa bersangkutan melaporkan dan menyajikan
penemuan atau pendapatnya kepada kelompok yang lebih besar. Kegiatan seminar
biasanya diorganisasi oleh guru untuk memperoleh kesimpulan umum melalui
serangkaian diskusi. Dalam teknik ini, kegiatan belajar mengajar kebanyakan
didelegasikan kepada para siswa sendiri.
4.
Lokakarya
(Workshop)
Umumnya lokakarya diawali dengan
pemberian informasi langkah-langkah kerja, dan asas-asas pelaksanaannya tentang
suatu topik kepada para siswa dengan menggunakan metode tertentu. kemudian para
siswa menerapkan informasi yang telah diperolehnya itu ke dalam tugas-tugas
yang nyata sesuai dengan pilihan sendiri. Kegiatan itu dilaksanakan dibawahi
supervisi guru.
5.
Teknis
Klinis (TK)
Teknik klinis digunakan dalam
rangka pertemuan diagnostik atau pemecahan masalah. Pertemuan diagnostik
dimaksudkan untuk memecahkan kesulitan-kesulitan yang dihadapi oleh siswa dalam
pengajaran tertentu. masalah yang dipecahkan berkenaan dengan masalah-masalah
masyarakat yang sedang dihadapi oleh masyarakat secara luas. Jadi, teknik
klinis berkenaan dengan kehidupan senyatanya, yang betul-betul terjadi di dalam
kondisi kehidupan. Kadang-kadang digunakan juga teknik simulasi sebagai teknik
penunjang klinis.
6.
Diskusi
Kelompok Terbuka (DKT)
Teknik diskusi kelompok terbuka
dapat digunakan dalam kerangka teknik-teknik yang telah dibahas sebelumnya.
Pemimpin kelompok merumuskan topik yang akan didiskusikan dan bertindak sebagai
ketua diskusi kelompok. Dalam hal itu, kegiatan belajar terjadi dalam bentuk
pertukaran pengalaman, pemikiran, dan informasi di kalangan para peserta
diskusi.[10]
[1]Abdul Majid, S. Ag., M. Pd, PerencanaanPembelajaranMengembangkanStandarKompetensi
Guru, Bandung, PT RemajaRosdakarya, 2011, hal. 160.
[2]Abuddinnata, Perspektif Islam Tentang Strategi
Pembelajaran,Jakarta: Kencana, 2011, hal. 265-266.
[7]Abdul Mujib, S. Ag., M. Pd, PerencanaanPembelajaranMengembangkanStandarKompetensi
Guru, Bandung, PT RemajaRosdakarya, 2011, hal. 162-163.
[9]Dr. Mulyono, M.A,StrategiPembelajaranMenujuEfektifitasPembelajaran di Abad Global, Malang:
UIN-MalikiPress, 2011, hal. 113-122.
[10]Prof. Dr. OemarHamalik, PerencanaanPengajaranBerdasarkanPendekatansistem, Jakarta: PT
BumiAksara, 2002, hal.188-190.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar